Posted in Astro Fanfiction Indonesia, AU, Ficlet, Fluff, PG-13

[Ficlet] Whatever It Called

tumblr_of2jvjdo2f1vi71tdo1_500

WHATEVER IT CALLED

ASTRO’s Park Jinwoo with OC’s Kim Jaemi | fluff | ficlet (890+ words) | PG13

a fanfiction by byeongariz

cr. moodboard here

.

.

“Oh, tunggu sebentar … k-kau … juga selalu bilang ingin memanggilnya seperti itu, ‘kan, Kak Jaemi? Cobalah sesekali memanggilnya ‘Oppa’, kurasa dia akan suka jika kau yang memanggilnya begitu.”

.

Berkali-kali menelan ludah, Kim Jaemi berusaha membasahi tenggorokannya yang hampir tercekat. Kalimat Hyun itu terus membayangi pikirannya. Kim Jaemi merutuki dirinya sendiri yang sejak tadi bahkan hampir tidak memedulikan seseorang yang berjalan di sebelahnya. Ugh, dia memang sangat ingin memanggil kekasihnya dengan panggilan seperti itu—well, tidak ada salahnya untuk melupakan sejenak kenyataan bahwa dirinya lebih tua beberapa tahun dibanding sang kekasih. Namun, Jaemi tidak sebodoh itu, demi Tuhan! Dia masih bisa menahannya—tidak mungkin dia mempermalukan dirinya sendiri di depan kekasihnya seperti itu.

Jaemi mengembuskan napas berat, alih-alih memedulikan jemari sang kekasih yang sudah menggenggam miliknya dan terus menuntunnya menyusuri trotoar. Banyak sesuatu yang sedang berkemelut di dalam kepalaya. Agaknya, fokus gadis tersebut benar-benar sedang terlepas. Dia bahkan terlambat menyadari bahwa lelaki manis di sebelahnya sudah menatapnya sedari tadi.

“K-kenapa kau menatapku seperti itu?” Membuang muka yang kepalang memerah, gadis bergaris Kim itu kentara sekali menahan malu. Napasnya memburu kendati langkahnya tak terburu.

Lelaki bernama Park Jinwoo itu tersenyum kecil selagi menggelengkan kepala. “Apa yang sedang kaupikirkan? Sesuatu yang berat sepertinya tengah menggantung di kepalamu.”

Kim Jaemi mengucap serapah (lagi) di dalam hatinya. Oh, kalimat Hyun sungguh membuat kencannya hari ini berantakan. Hei, bagaimana mungkin Jaemi akan memanggil lelaki yang lebih muda darinya itu ‘Oppa’? Tidak, tidak. Ini sungguh akan menjatuhkan harga dirinya yang sudah terlanjur melambung tinggi. Kalimat Hyun itu sangat bodoh. Dia tidak perlu memikirkannya lagi—ugh, Jaemi bersumpah akan membalasnya saat gadis tetangga itu berkencan dengan sepupunya nanti. Lee Minhyun sudah mendistraksi fokusnya hari ini dan Jaemi tidak bisa membiarkan hidup gadis itu tenang semua hal ini terjadi.

“Kau melamun lagi. Sebenarnya kau kenap—“

“Aku baik-baik saja, Oppa!”

Mendengar pekikan Jaemi yang begitu tiba-tiba, mulut Jinwoo hanya bisa ternganga. Dia sedikit terkejut lantaran gadisnya baru saja merespons pertanyaannya dengan kalimat yang membuatnya sedikit tak percaya. Oppa?! Tunggu sebentar, apakah Jinwoo tidak salah dengar? Kim Jaemi baru saja memanggilnya … Oppa?! Apa dia tengah bermimpi? Oh, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan gadisnya ini?

Jaemi yang sudah menutup mulut dengan dua telapak tangannya hanya bisa menatap Jinwoo tak percaya. Demi Tuhan, dia bahkan tidak mengerti bagaimana bisa kata itu akhirnya lolos juga dari balik bibirnya. Dia menunggu Jinwoo untuk bicara, namun setelah membiarkan beberapa sekon melayang dalam senyap—dan Jaemi merasa Jinwoo tak akan menanggapinya juga—dia lekas membuang napas. Sedikit kecewa, sebenarnya. Dia ingin tahu bagaimana tanggapan lelaki itu setelah dirinya baru daja tidak sengaja memanggilnya Oppa. Namun nyatanya Jinwoo masih bergeming selagi terus menatapnya. Jaemi bahkan tidak bisa mengartikan tatapan Jinwoo saat ini. Gadis itu lantas mendesah panjang, pikirannya benar-benar terdistraksi.

U-uh, maaf. Pikiranku sedang kacau.” Sudut mata gadis Kim itu terlihat berkaca-kaca. Jaemi menahan airmatanya agar tidak meluncur dari balik kelopaknya. Dia juga lekas-lekas mendongakkan kepala sembari meraup oksigen banyak-banyak dan kembali melirihkan permintaan maaf.

Namun, tanpa disadari oleh Jaemi, nyatanya kedua sudut bibir Jinwoo sudah terangkat beberapa derajat. Pemuda itu tersenyum kecil melihat gadisnya yang tampak salah tingkah. Dia menarik jemari sang gadis yang masih berada di dalam genggamannya tiba-tiba, membuat tubuh Jaemi sontak berjengit dan akhirnya tatap keduanya kembali bertemu detik itu juga. Jinwoo tersenyum selagi belum melepaskan tatapan pada sosok di hadapannya—yang tampak gugup dan semakin susah meraup oksigen—lekat-lekat.

“Tidak perlu meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Apa hanya karena hal itu kau jadi kehilangan fokus sejak tadi?”

Gadis bersurai kelam itu mengangguk pelan seraya menundukkan kepalanya. Dia tidak mampu menatap wajah Jinwoo lagi—sudah cukup dia mempermalukan dirinya sendiri—dan detik itu juga, Jaemi segera menceritakan semuanya kepada Jinwoo; tentang bagaimana kalimat Hyun yang mendistraksi otaknya sejak tadi dan membuatnya ‘sedikit’ kehilangan fokus sehingga menghancurkan kencan mereka hari ini. Alih-alih menenangkan, Jinwoo malah tergelak lantas mengusak-usak surai sang kekasih. Dia menggoda Jaemi selagi sesekali mencubit pipi gadis Kim tersebut. Park Jinwoo bahkan tak menyadari jika tindakan kecilnya itu sudah membuat degup jantung gadisnya terpompa semakin cepat. Kim Jaemi hampir lupa bagaimana cara bernapas dengan benar kalau Jinwoo tak lekas berhenti menggodanya.

“Tidak apa-apa memanggilku seperti itu—sesekali atau selamanya sekalipun—jika kau memang ingin. Hei, aku sudah berkali-kali mengatakannya, jangan pedulikan apa pun tentang umur kita. Toh, aku juga tidak terlalu buruk untuk jadi seorang Oppa bagimu, ‘kan? Lagipula, kau juga lebih sering bertingkah seolah lebih muda dari umurmu dan—eum, sedikit menggemaskan.”

Ugh, jangan menggodaku lagi. Kau membuatku semakin malu, tahu.”

Tawa Jinwoo semakin mengudara melihat Jaemi berusaha membalikkan badan dan menghindari tatapannya. Sepersekon kemudian, dia menangkup kedua pipi gadisnya sehingga membuat tatap mereka kembali bersirobok. Jinwoo lantas tersenyum kecil dan mengecup cepat pipi kanan Jaemi seraya berbisik—

“Aku sama sekali tidak keberatan sekalipun kau memanggilku … Jinwoo Oppa, selamanya.”

—yang seketika membuat pekikan Jaemi akhirnya terdengar, sementara kekeh tawa Jinwoo masih mengisi udara. Pemuda itu terlihat sangat bahagia setelah berhasil menggoda gadisnya berkali-kali. Well, tak peduli berapa kali Jaemi memintanya untuk berhenti, Jinwoo hanya terlampau senang melihat pipi Kim Jaemi yang tiba-tiba merona tiap kali dirinya berhasil membuatnya salah tingkah.

.

Ugh, aku membencimu, Park Jinwoo!”

“Oh, bukankah mulai sekarang kau harus memanggilku ‘Oppa’? Atau, perlukah aku saja yang memanggilmu—eum, Noona?!”

YA! PARK JINWOO!”

“Hahaha. Maaf, maaf. Aku hanya bercanda. Aku sudah mengatakannya belum? Kalau kau—Kim Jaemi—terlihat semakin menggemaskan saat sedang salah tingkah.”

.

.

-fin.

Advertisements

Author:

when you speak to me everyday, you naturally start loving oppars so fckin much. i'm warning you, dear :)

One thought on “[Ficlet] Whatever It Called

  1. “Aku baik-baik saja, Oppa!”

    NYEBUR AJA MBA KE RAWA BUAYA SONO ANJAAAAAYY MALU2IN KELUARGA KIM AJA!!! *mj ngomel2 sendiri*

    Hyun nih ya….. bikin kentjan mereka tidak diawali dengan manis2….. tapi diakhiri dengan KETJUPAN di pipi!!! ASTAGAAAA ITU MEREKA LAGI DI MANA TOLONG KETJUP2????!!! *menggelinding sampe pantai*

    Bisaan banget mba anak ayam(?) bikin baper anak perawan yang abis bangun bobo siang 😭😭😭 ((seketika inget fic sendiri yg ga kelar2. BYE!!!))

    Syudahlah jaemi mau lanjut kencan sama jinjin (OPPA) dulu ya~~ 👋 MAKASIH BUAT FIC MANISNYA RIRIS ❤😘

    Liked by 1 person

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s