Posted in Event, Ficlet, Hurt/Comfort, Romance, Teenager

[Together Let’s] Behind The Light – Ficlet

picsart_12-30-05-43-091

BEHIND THE LIGHT

===

ficlet by imaginesugar

starring [ASTRO] Cha Eunwoo; [OC] Jung Seultae

rated T | genre romance, hurt/comfort

===

I own the plot, please do not do plagiarism

===

Let’s go release floating lanterns

===

Ketika Eunwoo menengok arlojinya, informasi yang ia dapatkan adalah bahwa ia baru berdiri di dekat pagar pembatas padang rumput selama tak lebih dari enam menit. Lelaki itu mendengus pelan menyadari ketidaksabarannya yang membuncah dan meletup-letup sedemikian rupa akan kedatangan pemeran utama wanita malam ini. Menit yang akan dilaluinya pun tak banyak lagi mengingat Seultae bilang ia sudah turun dari taksi. Namun ketika Eunwoo hanya bisa memainkan ujung sweter cokelatnya untuk mengisi spasi waktu itu, ia mendengus untuk kedua kalinya.

“Eunwoo!”

Maka ketika audio familiar yang menyebut namanya terdengar, dengan pergerakan kilat Eunwoo mendongak untuk mendapati kenampakan gadisnya mengambil langkah cepat ke arahnya dengan surai panjang serta syal merah yang sedikit berkibar. Kedua ujung bibir Eunwoo merekah penuh arti dan dengan sekejap si gadis telah berdiri di hadapannya.

“Hai Seultae.”

Yang disapa membalas utas senyum lebar Eunwoo. Matanya menyipit dan membentuk bulan sabit membuat Eunwoo lagi dan lagi terpesona akan hal-hal kecil seperti ini. Tapi hal paling penting pada malam ini sudah menunggu dan fakta itu memaksa Eunwoo semakin bersemangat. Ia meraih jemari Seultae yang tersembunyi separuh akibat lengan kemeja yang terlalu panjang.

“Ayo,”

“Eunwoo?”

Dapat ditilik manik Eunwoo laiknya mencerminkan pemandangan yang tengah memenuhi langit padang rumput itu. Ketidaksabarannya beberapa saat lalu akhirnya terbayar telak saat kini ia menatap puas puluhan lampion tengah mengudara, tak lupa akan eksistensi Seultae di sampingnya yang rasanya membuat segala hal terasa begitu sempurna.

“Lihatlah, Seultae. Bukankah itu indah?” Pandang Eunwoo begitu lekat dan penuh akan kebahagiaan, terlalu lekat hingga tak kunjung sadar akan jemari bergetar yang tengah ia genggam. “Setelah ini kita akan melepas—“

Berniat mengusulkan rencana lain miliknya yang ia rasa lebih hebat lagi, Eunwoo pada akhirnya melepas tatap dari langit untuk menilik Seultae. Eunwoo selalu membayangkan Seultae akan begitu terpukau hingga manik indahnya membulat sempurna dan belah bibirnya tak terkatup kala indera penglihatannya menangkap pemandangan lampion-lampion itu, karena pada dasarnya Seultae adalah tipe gadis yang akan terkagum dan bertepuk tangan acap kali melihat hal-hal kecil yang menarik atensi. Maka ketika netra Eunwoo menangkap sosok gadisnya itu bergetar, berusaha untuk mengalihkan pandang dari langit penuh lentera, serta keringat dingin mulai membasahi permukaan dahi berkerutnya, Eunwoo sontak terkejut.

“Seultae? Apa kau baik-baik saja?”

Seultae tampaknya tak ingin menjawab kuesioner yang lolos dari lisan Eunwoo dengan sebuah kalimat pula. Alih-alih itu semua, kini sepuluh jemari Seultae mencengkeram kain wol pakaian Eunwoo dengan kuat, bola matanya terus bergerak tak tentu arah, napasnya tak beraturan, dan yang paling menonjol adalah ia berusaha keras untuk menutupi penglihatannya dari pemandangan lampion-lampion di udara.

“Eun-woo, Eun-woo…,”

Panggilan yang ia sebut pun terdengar lemah dan penuh vibrasi. Kendati belum mengerti penuh tentang apa yang sedang terjadi, Eunwoo hanya bisa menjaga refleksnya untuk kemudian melingkarkan lengan ke tubuh Seultae, merengkuh gadis itu serta mengelus surainya perlahan.

“Iya, Seultae? Ada apa? Bilang saja,”

“Aku, aku phobia, Eunwoo.”

Pemandangan yang mereka saksikan kini hanyalah kegelapan. Mungkin tak sepenuhnya, karena bagaimanapun ada sebuah satelit yang memantulkan sinar dari matahari di luar jendela sana. Keduanya duduk di atas lantai kayu ruang tamu apartemen Eunwoo, punggung bersandar dinding yang berdekatan dengan ventilasi. Lutut tertekuk, sisi kaki mereka bersentuhan—cukup untuk menyebar sedikit kehangatan diantara atmosfer beku yang mengudara. Tombol lampu di dekat pintu masuk sengaja tak Eunwoo sentuh mengingat Seultae baru saja bergetar hebat di bawah naungan cahaya lampion.

Eunwoo hanya diam. Mungkin terlalu lama diam hingga ia harus menjilat bibir bawahnya lantaran terlalu kering. Eunwoo bukan tipe lelaki yang akan melontarkan banyak pertanyaan meski kuriositas serasa ingin membunuhnya di saat-saat gadisnya menangis. Ia juga tidak memeluk serta membisikkan kalimat-kalimat penenang untuk menghentikan air mata yang senantiasa turun di sisi pipi Seultae. Eunwoo hanya membiarkan waktu berlalu dan hal itu justru yang semakin membuat Seultae merasa nyaman untuk selalu berada di dekatnya.

Tangisan Seultae terdengar jelas beberapa menit lalu. Jemarinya kerap terangkat untuk menyeka aliran air mata namun dari kontak antar lutut tertekuk mereka, Eunwoo rasa gadis itu sudah berhenti bergetar. Waktu berlalu dan Seultae mulai berhasil mengontrol dirinya untuk berhenti menangis.

“Aku pergi kemah sekali saat di sekolah dasar.”

Saat isaknya resmi berhenti tanpa sengguk, Seultae akhirnya membuka konversasi kembali.  Ia mengerti Eunwoo butuh penjelasan dan dirinya pun perlu sesi bercerita untuk menenangkan pikiran, maka mungkin tak ada salahnya untuk membeberkan sedikit sisi gelap yang ia benci dari rentet peristiwa masa lalunya.

“Di malam terakhir, kami bernyanyi di sekeliling api unggun, mengungkapkan keluh kesah satu sama lain, dan—“ Napas Seultae tertahan untuk beberapa saat dan Eunwoo menengoknya penuh tanda tanya. “—menerbangkan lampion.”

Eunwoo menggumamkan sebuah ‘o’ dengan pelan saat ia mulai menyadari arah pembicaraan Seultae. Lelaki itu kembali meluruskan pandangannya, memberi spasi bagi Seultae untuk merotasi bola matanya yang panas akan air yang menggenang di pelupuk serta menghirup napas dalam-dalam.

“Tapi yang terakhir tidak berhasil. Lampion-lampion itu tertiup angin dan terbang ke arah pepohonan. Hutan pun terbakar dan apinya sangat besar. Aku benar-benar takut saat itu. Semuanya terlihat sangat, uh, sangat—“

“Kau tidak perlu menyelesaikan ceritamu.”

Saat kata-kata Seultae mulai tak beraturan dan intonasinya meninggi, Eunwoo pun mengambil bagiannya. Rasa penasarannya sudah habis. Namun otaknya agaknya belum mendapat pasokan kalimat yang pas untuk meneruskan pemotongan ujar Seultae itu, membuat senyap kembali melanda.

“Maafkan aku, Eunwoo. Aku mengacaukan semuanya.”

Segenap rasa bersalah pun menerjang Eunwoo saat Seultae membuka mulut untuk mengucap maaf. Eunwoo tak pernah berpikir semuanya kacau, toh. Keinginan utamanya malam ini adalah untuk menatap netra Seultae dipenuhi kebahagiaan dan memastikan segalanya baik-baik saja untuk gadis itu. Membuat Seultae percaya bahwa Eunwoo selalu ada di sisinya, membuat Seultae hanya dan hanya akan melihat ke arah Eunwoo.

“Tak apa, tak ada yang kacau. Tidak melepas lampion bersamamu juga tak apa.”

Eunwoo akhirnya kembali tersenyum lebar, kali ini diarahkan kepada Seultae seutuhnya.

“Mengetahui satu lagi sisi gelap yang pernah muncul di hidupmu, kurasa itu lebih baik sekarang.”

‘Karena cahaya tak akan pernah terlihat tanpa ada kegelapan di sekitarnya.’

-fin.

.

.

.

  • yeah, ini berakhir garing lagi. feelsnya nggak dapet banget:3
  • demi kerang ajaib, maafin hyeon, maafin lia, maafin kumil atau dengan apapun itu kalian memanggil seonggok makhluk pemalas ini. jelas tertulis DL tgl 31 dan disinilah aku mengetik tulisan ini pukul 1.37 am tanggal 1 januari 2017. maafkan ketelatanku, ya, semua:’)
  • HAPPY NU YER EVERYONEEEEE<3
Advertisements

Author:

just an amateur fic writer who loves to be pure yet doesn't know what pure means itself

3 thoughts on “[Together Let’s] Behind The Light – Ficlet

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s