Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Ficlet, Fluff, PG, Romance, School Life

[Together let’s] Watching the Fireworks on New Year’s Eve

picsart_12-31-12.37.58.png

Watching the Fireworks on New Year’s Eve

by tyavi

[Astro] Eunwoo and [Twice] Chaeyoung

Romance,  Fluff, School life | Ficlet | PG

Together let’s…kiss on New Years

.

.

.

Chaeyoung tengah bertopang dagu di kusen jendela kelas saat Eunwoo datang membawa dua cup kertas di tangannya. Malam ini Hagnon High School mengadakan New Year’s Eve Party, proyek terakhir Student Council sebagai penutup tahun, yang diisi dengan acara makan-makan, pentas seni, dan puncaknya tentu saja pesta kembang api. Chaeyoung dan Eunwoo selaku pelaksana, memutuskan untuk menikmati acara dari kelas mereka, memandangi seluruh murid Hagnon yang melewati malam dengan suka cita. Dan alasan lain juga karena ini adalah hari terakhir mereka bisa berada di kelas yang mereka tempati selama satu tahun ajaran.

“Tidak terasa 2 jam lagi tahun 2016 akan berakhir,” Chaeyoung berkemam saat Eunwoo sudah berdiri di sampingnya, turut melempar tatap ke kemeriahan pesta di lantai bawah. Di antara kerumunan mereka dapat melihat Seokmin yang sedang memamerkan cengiran kudanya bersama Minghao sambil memakan hotteok, Koo Junhoe yang sedang bernyanyi di atas panggung diiringi permainan gitar akustik Park Chaeyoung, Momo dan Sunyoung yang sedang menari, Halla dan Vernon yang sedang mengobrol di salah satu kursi taman, Wonwoo dan Myungeun yang sedang menuliskan harapan tahun baru mereka di papan besar yang disediakan, Sujeong yang sedang bertengkar dengan Mingyu, Chanwoo yang sedang membenarkan letak syal Shannon, serta Jun yang sedang mengambilkan cokelat panas untuk kemudian diberikan pada Sana.

Eunwoo tersenyum melihat apa yang menjadi perhatian Chaeyoung sejak ia tinggal selama 10 menit untuk mengambil minuman hangat dari stan minuman yang dijaga petugas sewaan di lantai bawah. Mengalihkan pandangan pada gadis mungil yang tenggelam di balik coat hijau tua berbulunya, Eunwoo menyodorkan satu cup kertas yang dibawanya ke depan wajah Chaeyoung.

“Apa ini?” tanyanya seraya menerima. Chaeyoung terbiasa bertanya demikian kalau menerima minuman dari Eunwoo. Curiga kalau saja pemuda itu akan memberikannya—

“Kopi.”

“Ketua!”

“Aku bercanda. Itu cokelat hangat yang manis, nona Wakil yang seperti bayi.”

Enggan mendebatkan panggilan kekanak-kanakan Eunwoo barusan, Chaeyoung hanya mencebikkan bibir sesaat dan langsung menyeruput minumannya. Rasa dingin dan juga haus setelah mengurus berbagai persiapan pesta sedari pagi lebih besar dibanding rasa kesalnya pada manusia bernama Cha Eunwoo. Toh, Chaeyoung sudah kenyang bertengkar pun mendengar panggilan-panggilan menyebalkan Eunwoo padanya. Mentang-mentang Chaeyoung lebih muda dua tahun dan hobi minum susu kotak, Eunwoo seenaknya saja memanggil ia bayi. Lalu, apa Chaeyoung harus balik memanggilnya ‘Om-om’ karena hobi minum kopi tanpa gula?

“Jangan minum terus. Kalau habis, aku malas mengambilkannya lagi ke bawah,” ujar Eunwoo yang dapat diartikan dengan ‘bicaralah, ajak aku mengobrol’.

Chaeyoung pun menurunkan cup kertasnya dari bibir dan beralih menatap Eunwoo.

“Kalau begitu, boleh aku bertanya sesuatu?”

Eunwoo yang baru saja menyesap kopinya, mengangguk lamat.

“Kenapa kau memilihku sebagai Wakilmu?”

“Bukannya aku sudah sering bilang?” balas Eunwoo dengan kerutan tipis tergambar di dahi—bingung.

 “Aku tidak percaya kalau hanya karena aku sekolah lebih cepat 2 tahun.” Chaeyoung mengerucutkan bibir,  jari telunjuknya bergerak memutari penutup cup, dan pandangannya jatuh ke kedua ujung sepatu boot-nya. “Katakan padaku, apa kesan pertamamu saat bertemu denganku?” lanjutnya kemudian, merujuk pada tindakan Eunwoo yang memilih dirinya saat mereka baru pertama kali berjumpa di aula, saat pelantikan Ketua Student Council baru.

Lugu, bersemangat, dan terlihat bebas. Padahal ia akan menjalani situasi yang seharusnya dihadapi dua tahun lagi. Itulah impresi pertamaku terhadapmu,” Eunwoo menjawab enteng, tanpa ragu. Tidak ada tatap menyebalkan dan seringai penuh arti seperti saat ia mengatakan alasannya memilih Chaeyoung sebagai Wakil sebelumnya. Dan asumsi Chaeyoung bahwa ada alasan lain yang mendasari keputusan Eunwoo kini terbukti.

Tapi bukannya merasa puas, beberapa pertanyaan justru mulai menggerayangi benaknya; seperti atas dasar apa Eunwoo beranggapan ia lugu, bersemangat, dan terlihat bebas?

“Kenapa Ketua berpikir seperti itu? Padahal Ketua ‘kan baru pertama kali melihatku di aula.”

“Bukan, saat berpidato di aula bukan pertama kalinya aku melihatmu,” sanggah Eunwoo cepat dan sontak membuat manik Chaeyoung membulat.

“A-apa? Lalu di mana?”

Eunwoo merendahkan sedikit kepalanya, dan harusnya Chaeyoung lebih cermat dalam menelisik ekspresi Eunwoo karena seringai menyebalkan mulai terpeta di bibirnya sebelum kemudian ia menyahut. “Rahasia. Sekarang giliranmu, aku juga ingin tahu bagaimana kesan pertamamu bertemu denganku?”

Dari jarak sedekat ini rasanya Chaeyoung ingin mengadu kepalanya sendiri dengan kepala Eunwoo, membuat pemuda itu mengaduh karena isi kepala berotak encernya mulai tercecer ke mana-mana sehingga Chaeyoung dapat membaca sendiri apa yang selama ini tertulis di dalamnya. Seperti menonton drama Korea, Chaeyoung benci sekali episode berakhir dengan konflik yang masih menggantung. Ditambah harus menunggu seminggu lagi untuk sekedar mengetahui rahasia yang akan diungkapkan si pemeran utama.

Tapi kalau untuk jawaban dari pertanyaannya barusan, Chaeyoung harus menunggu berapa lama? Tidak setiap hari Cha Eunwoo bisa dikorek kehidupan pribadinya seperti ini. Pilihan Chaeyoung hanya dua, mendesak Eunwoo sampai menjawabnya atau meneruskan konversasi ini hingga bermuara ke pertanyaannya barusan.

“Saat pertama melihatmu di aula, kupikir kau adalah sosok yang tegas dan…um, tampan.” Dan akhirnya Chaeyoung memilih opsi kedua. “Jujur saja, kau terlihat sangat keren saat berpidato di hadapan semua murid.”

Eunwoo kembali menyesap kopinya. Penutup cup yang tertempel di bibirnya digunakan sebagai alibi atas terciptanya sebuah lengkungan di sana.

“T-tapi itu hanya saat pertama kali bertemu! Setelah itu aku berubah pikiran!” Chaeyoung cepat-cepat menimpali. Baru sadar apa akibat dari kalimat yang baru saja dikatakannya tadi.

Tapi tindakan Chaeyoung barusan justru membuatnya jadi tampak mencurigakan. Sehingga yang Eunwoo lakukan selanjutnya justru mendekatkan wajahnya lagi dengan sebelah alis terjungkit tinggi. “Oh, ya? Jadi, aku tidak tegas?”

“Um, tidak juga sih…”

“Aku tidak keren?”

“T-tidak, a-aku hanya…”

“Dan aku juga tidak tampan?”

Kalau sebelumnya Chaeyoung masih terbata, kini ia justru kehilangan kata-kata. Pasalnya setiap Eunwoo melayangkan pertanyaan padanya, wajah pemuda itu semakin dekat saja. Kalau bukan karena detak jantung Chaeyoung yang sudah tidak terkendali, pasti ia sudah berteriak ‘Tampan, Cha Eunwoo. Sangat tampan! Apalagi dilihat dari jarak sedekat ini!’.

Sebelah tangan Eunwoo yang memegang cup kopi bergerak meletakkannya di tepian jendela dan beralih berpegangan di kusen. Lantas sebelah tangannya yang terbebas, meraih cup minuman milik Chaeyoung dan melakukan hal yang sama sebelum kemudian beralih menggenggam jemari mungil Chaeyoung.

“Chaeyoung, kau benar-benar ingin tahu kenapa aku memilihmu?”

Eunwoo semakin mendekatkan wajahnya. Manik hazelnya terfokus pada satu titik, yaitu bibir Chaeyoung.

“Aku tertarik padamu.”

Semakin dekat hingga Chaeyoung terbawa suasana, dan akhirnya memutuskan untuk memejamkan mata.

3…

2…

1…

HAPPY NEW YEAR!

Bersamaan dengan seruan barusan, terdengar bunyi kembang api yang saling bersahutan. Kontan membuat Eunwoo dan Chaeyoung mengalihkan pandangan pada langit kota Seoul yang mulai bercahaya. Beragam warna mulai dari merah, emas, hijau, perak, biru sampai ungu menghiasi kembang api yang meledak dan bersinar terang di angkasa. Semua orang terpesona menyaksikannya. Kekaguman mulai meluncur dari setiap bibir.

“Woaahhh, kembang apinya indah sekali!” Chaeyoung tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Satu kembang api meluncur lagi dan membuyarkan percikan merah api di udara.

“Ketua, coba liha—”

Chaeyoung tak meneruskan kalimatnya karena saat ia menoleh, Eunwoo malah menangkupkan wajahnya dan mendaratkan satu kecupan di bibir mungilnya. Singkat namun mampu mencuri pasokan oksigen Chaeyoung sesaat, juga membuat aliran darahnya langsung menuju ke kedua belah pipinya yang kini terasa hangat. Belum hilang rasa lembut bibir Eunwoo yang membekas di bibir Chaeyoung kala pemuda itu menjauhkan wajah dengan senyum merekah.

“K-ketua…?” Chaeyoung kehilangan kata-kata. Otaknya seakan tidak berfungsi untuk sekedar menyusun sebuah kalimat pertanyaan atas tindakan lelaki Cha itu barusan.

“Panggil aku Cha Eunwoo. Toh, semester depan kita sudah tidak menjabat Ketua dan Wakil Ketua Student Council lagi.” Eunwoo membuka coat hitam-nya dan memeluk Chaeyoung dari belakang—membungkus tubuh mungil gadis itu yang sudah lebih dulu dilapisi coat hijau tua. Perbedaan tinggi mereka yang kentara membuat Eunwoo harus menunduk dan berakhir mengistirahatkan dagunya di pundak Chaeyoung. Buat gadis Son itu dapat merasakan hembusan napas Eunwoo saat pemuda itu berkata:

“Aku tertarik padamu sejak pertama kali aku melihatmu, Son Chaeyoung. Jadi aku mengikatmu dengan jabatan selama satu tahun agar kau selalu disisiku. Sekarang giliran aku mengikatmu dengan status sebagai pacarku dalam jangka waktu tertentu—kau tidak mau berpacaran denganku selamanya ‘kan?—Dan sama seperti saat aku memilihmu sebagai Wakilku…”

Eunwoo menggesekkan hidung bangirnya di telinga Chaeyoung yang sudah memerah. Membuat gadis itu merasa geli dan refleks memalingkan muka. Memberi akses Eunwoo untuk memiringkan wajah ke paras Chaeyoung dengan leluasa.

.

“…kali ini kau juga tidak boleh menolak.”

.

fin

picsart_12-23-06.58.50.jpg
One year passed but nothing has changed 😉

Untuk yang ingin tahu bagaimana perjumpaan pertama mereka bisa membaca First Day

Advertisements

Author:

Jung Hamji | 97Line | RNA

3 thoughts on “[Together let’s] Watching the Fireworks on New Year’s Eve

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s