Posted in Event, Family, General, Vignette

[Together Let’s] Preferences – Vignette

PREFERENCES

===

vignette by imaginesugar

starring [ASTRO] Moon Bin; [Rapper] Moon Sua

rated G | genre family

===

I own the plot, please do not do plagiarism

===

Let’s go to a concert

===

Bin teringat suatu kali ia menyatakan kebenciannya terhadap frasa menunggu pada Sua. Berada dalam posisi yang sama tanpa melakukan apa-apa bukanlah sesuatu yang pantas untuk dicatat dalam daftar ‘hal-hal yang Bin sukai’. Belum lagi tentang berapa lama sekon yang dihabiskan dan kaitannya dengan manfaat yang diperoleh. Kegiatan menunggu bahkan tidak cukup bagus untuk disebut kegiatan.

Bin teringat membeberkan preferensinya yang satu itu kepada Sua belum lama ini, dan disinilah ia berdiri bersandar di dinding kamar Sua untuk menunggunya selesai menangis.

Berpikir tentang memori yang baru saja hinggap di kepalanya, Bin mencuri pandang pada sosok berbalut selimut yang mengisi keheningan dengan isak tangis, masih dalam posisi yang sama di atas ranjang lebar biru muda itu. Sesaat Bin menyadari bahwa hampir semua benda yang ada di kamar Sua berwarna biru muda, namun detik berganti dan mengusir pikiran-pikiran tak penting di serebrum Bin untuk kemudian melongok pada arloji di pergelangannya—

—membuat Bin sesegera mungkin menyesali semua gumaman kecil dan lirikan obsidiannya kepada setiap hal-tak-berpengaruh-terhadap-tangisan-Sua sejak tadi. Jarum panjang di jam tangan Bin menunjuk pada angka sebelas dan itu sama dengan Bin telah menunggui Sua menangis selama hampir satu jam lamanya.

“Moon Sua!”

Biasanya Bin akan melontar seruan yang mengisyaratkan amarah serta kekesalan, namun sebagai akibat dari masalah ‘penungguan’ yang entah darimana munculnya, nada yang keluar justru lebih terdengar sebagai rengekan. Sebuah panggilan yang penuh dengan kesan orang merajuk.

Namun mungkin alasan Sua menangis kali ini agak lebih kuat dari biasanya. Alih-alih tertawa dan mulai menirukan gaya merengek Bin yang payah, gadis itu lebih tertarik untuk memperkuat isakan dan menenggelamkan wajah ke bantal yang sudah sangat basah (Bin akan berteriak nanti saat mendapati ini karena ia adalah tipikal manusia pembenci kontak antara benda cair dan piranti tidur).

Maka demi waktu berharga serta kesabaran yang sudah ia buang percuma, Bin melangkah mendekat dan duduk di pinggir ranjang Sua. Dan menghelakan banyak napas terlebih dahulu sembari menyusun utas kalimat yang benar untuk diucap saat seorang adik perempuan tengah dalam suasana hati yang sangat buruk.

“Sua, dengarkan aku.”

“Pergilah, aku ingin sendiri!”

Satu lagi hembus napas dalam dari Bin saat Sua mengeluarkan kata-kata klasik bin ajaib milik perempuan. Yang mana Bin sudah sangat paham bahwa definisi sebenarnya dari kata-kata itu adalah kebalikannya.

“Berhentilah menangis dan dengarkan aku. Aku disini, Sua.”

Laiknya usaha kedua Bin berhasil menarik sepotong kecil atensi Sua. Gadis itu memunculkan ujung kepala dari kungkungan kain tebal yang Bin pastikan membuatnya gerah itu, lantas menohok Bin dengan sorot tajam dari sudut mata berairnya.

“Apa kau tidak dengar? Kubilang, pergi.”

“Aku yakin Bibi tidak membolehkanmu untuk menonton konser itu karena sebuah alasan yang masuk akal, setidaknya lebih masuk akal dari menangis selama satu jam berbalut selimut tebal di ruangan berpenghangat.”

Tuturan Bin selanjutnya tidak menjawab atau merespon atau bahkan berkaitan dengan kalimat protes yang diajukan Sua. Lelaki itu pantang melepas kontak matanya dengan sang adik, seolah Sua akan menghilang begitu saja—atau lebih logisnya, masuk kembali ke dalam selimut—jika ia berkedip.

“Tapi tetap, Bin…”

Bin tak pernah lebih bangga ketika kemudian Sua melunakkan intonasi dan keluar dari perkemahan selimutnya setelah membiarkan setengah menit hening mengudara.

“… ia sudah berjanji padaku. Seminggu! Seminggu sebelum ujian! Konser solo Niall Horan!” kejar Sua menggebu-gebu.

Bin terkekeh. Atau lebih tepatnya, Bin menutupi kekehannya dengan berdehem pelan agar tidak kehilangan suasana damai hanya karena kelalaiannya untuk tertawa di tengah pembicaraan serius, dengan Sua.

“Hei,”

Menyadari jarum jam di arlojinya tidak berhenti untuk membuat spasi bagi dialog mereka, Bin meraih pergelangan Sua dan akhirnya menyatakan tujuan eksistensi dirinya di sini sejak tadi. “ayo nonton konser yang lain.”

Alis Sua terangkat tunggal. “Konser lain?”

Bin pun kembali berbangga hati meski juga kembali menyesal atas waktu yang terbuang sia-sia untuk membujuk Sua dengan ini dan itu ketika nyatanya si gadis bersurai cokelat karamel langsung menunjukkan perhatian berlebih kala Bin menyebut ‘konser lain’.

Sua teringat suatu kali ia dengan acak menyebut bahwa ia tidak suka pengamen kepada Bin. Ia bahkan tak begitu membenci pengemis karena mereka memang orang-orang yang tidak mampu dalam hal finansial dan tak punya pekerjaan. Namun pengamen didefinisikan oleh Sua sebagai orang yang tidak menghargai seni dan memanfaatkan musik hanya untuk mendapat recehan dari para pejalan kaki.

Sua ingat sekali Bin menggumamkan persetujuan yang meski tak begitu ikhlas untuk merespon perkataannya, dan disinilah orang yang sama membawanya ke segerombol lelaki sebaya yang membawa alat musik seadanya dan jelas terlihat sebagai pengamen.

“Apa kau hilang ingatan atau memang membenciku sehingga harus memperlihatkan para pengamen kepadaku dan membual tentang ‘konser’?”

Sua mendumal dan menatap Bin malas, diam-diam memikirkan tentang sebab lain yang membuat Bin bertingkah sangat menjengkelkan. Saat ia mendapati kedua ujung bibir Bin sudah mencapai telinga dan barisan gigi putihnya sudah terlihat, maka opsi ketiga dari pertanyaannya tadi mungkin adalah karena Bin sudah mulai tidak waras.

“Aih, kenapa kau bilang pengamen?” Seharusnya Bin memulai nada tingginya untuk memarahi Sua namun yang terjadi justru senyum lelaki itu semakin lebar dan kegilaannya mulai menjurus ke arah yang membuat Sua bergidik geli. “This is busking, Sua!”

“Lantas apa bedanya? Mereka sama-sama bernyanyi dan bermain musik seadanya untuk mendapat recehan.”

“Tentu saja mereka berbeda.”

“Lalu kau menyuruhku untuk ped—hei, Bin, kau mau kemana?!”

Debat yang sebenarnya tidak begitu penting untuk dilanjutkan—apalagi dengan omelan beruntut dari Sua—itu mendadak terpotong paksa akibat absennya Bin dari tempat perkara. Memang ia pikir ia sedang belanja dengan Kak Seungcheol, tetangga mereka yang kaya raya, hingga dengan mudahnya meninggalkan Sua di tengah lalu lalang lenggang yang asing? Sua bahkan tak pernah mengenal toko DVD kecil di sudut perempatan seberang jalan meski telah memberi dirinya sendiri predikat sebagai gadis pemilik koleksi DVD musik terlengkap di kompleks perumahan mereka.

“Moon Bin!”

Di tengah emosi yang masih berkecamuk dalam batinnya, kini Sua tiba-tiba mendapati bahwa Bin meninggalkannya untuk menuju ke gerombolan—Sua terlalu sarkastis karena pada realitanya hanya ada dua orang yang ditemani beberapa alat musik dan pengeras suara—tadi.

Baiklah, Bin cukup baik dalam hal kejutan. Jadi, sekarang Bin adalah bagian dari gerombolan pengamen itu. Sua mendengus kesal karena keinginannya untuk kabur dengan taksi dan mencuri tabungan Bin sebagai ganti ongkosnya kini tiba-tiba terganti dengan kuriositas. Dan ketidaksabaran untuk mendengar seberapa buruk suara kakak lelakinya itu saat bernyanyi.

“Aku yakin suaranya sangat buruk seperti teriakan penjual roti di pagi hari yang cempreng itu.”

Sua masih tak berhenti mendumal bahkan kala musik sudah dimainkan dan beberapa orang tampak menghentikan langkah mereka untuk menonton penampilan sederhana itu. Paling tidak, Sua menyadari bahwa Bin adalah vokalis utama. Dan Sua benci ketika hal itu menaikkan ekspektasinya atas kemampuan Bin serta diam-diam memasang indera pendengaran pada kepekaan tingkat tinggi.

(teojil geot gateun bam)

Hanereul bulbicceul bwayo

(tteolligin hajiman)

Onereul gidaryeosseoyo

Nareul hyanghan maeumi gunggeumhae

Ne useumi daesin malhaejujanha

Bin menyanyikan bagiannya dan Sua mulai mengumbar komentar meski tak ada yang peduli.

“Hm, yah, tidak terlalu buruk, sih.”

Gumamannya boleh terdengar datar, bola matanya pun bisa saja bergerak merotasi seolah dirinya memang malas betul menghitung mundur waktu senggang yang tak begitu banyak itu untuk menyaksikan pertunjukan busking Bin. Namun di celah sempit pada titik terdalam hati Sua, sebuah kekaguman menyebar dengan dramatis, membuat setiap kata yang keluar dari tutur gadis itu hanyalah menjadi sebuah dusta.

Maka seharusnya Sua berterus terang saat binar di balik alis berkerut serta kelopak yang terus bergerak tak tentu arahnya kian merekah dan mulai mengabsen satu persatu fakta akan kerennya Bin hari ini. Suara kakak setahunnya itu jelas tergolong merdu. Tatap serta ekspresi yang ia pamerkan ke setiap orang yang berstatus sebagai pemirsa sementara itu menjadi sebuah dekorasi penyempurna diantara lekuk indah yang terpahat di paras rupawannya. Dan meski Sua tak bisa membedakan bunyi mana yang dihasilkan oleh bas yang dipegangnya, Bin tampak maskulin ketika jemarinya menari di atas alat musik itu.

I can fly

Make you smile

Sua tak bisa memungkiri dan akhirnya memutuskan untuk menyumbang sebuah applause di akhir pertunjukan.

Obsidiannya bertemu dengan milik Bin. Sebuah lengkungan lebar menyapa dan Sua pun membalas dengan hangat.

“Berkat dia, aku nonton konser yang keren hari ini.”

-fin.

===

  • halo, semua. long time no see
  • aku tau ini garing jadi maafkan heheu, prompt ‘go to a concert’ berakhir tidak memuaskan heheu
  • selamat liburan semuanya!:D
Advertisements

Author:

just an amateur fic writer who loves to be pure yet doesn't know what pure means itself

One thought on “[Together Let’s] Preferences – Vignette

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s