Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Event, Friendship, PG-15, Vignette

[Together Let’s] Fishy – Vignette

fishy

Casts Rocky [ASTRO], Eunwoo [ASTRO], Si Poni Aneh [OC] Genre Friendship Length Vignette Rating PG-15 Disclaimer Based on prompt “Go to an aquarium”

© 2016 Catstelltales

“Jadi ikut ke akuarium raksasa?”

Rocky masih main catur Jepang dengan Momotaro jauh di dasar laut ketika ponselnya berdering dan kalimat pertama yang didengarnya di antara alam bawah sadar dan kenyataan hanyalah “Jadi ikut ke akuarium raksasa?”. Awalnya Rocky pikir itu dayang-dayang raja laut yang berbicara padanya, sebelum ia menyadari bahwa tidak mungkin dayang raja yang cantik jelita bicara dengan suara cempreng melengking memekakkan gendang telinga.

Itu pasti suara Si Poni Aneh. Ingatan Rocky berputar ke lebih dari 48 jam yang lalu, saat dilihatnya gadis itu sedang berbicara pada Cha Eunwoo di koridor sekolah. Mereka tertawa dan tampak tidak membutuhkan orang lain untuk mengisi spasi di antaranya. Usut punya usut, ternyata Eunwoo mengajak Si Poni Aneh untuk pergi ke 63 Seaworld di Yeoido pada hari Minggu pagi. Mereka akan naik bus ke arah sana dan Eunwoo berjanji bahwa mereka akan bersenang-senang.

Rocky tidak menyukai Eunwoo. Pemuda itu begitu tampan, begitu mempesona, begitu sempurna, sampai-sampai terlihat mencurigakan. Makin sempurna Eunwoo terlihat, makin penasaran Rocky pada apa yang bisa membuatnya membuka lapisan teratas dari topeng tampannya.

Ah, tapi mungkin Rocky hanya cemburu. Ia dan Si Poni Aneh lebih dulu bertemu kemudian berteman. Begitu keduanya masuk ke sekolah menengah yang sama, Si Poni Aneh tahu-tahu saja sudah berada di lingkaran pergaulan yang lain. Tadinya Rocky tidak punya masalah soal itu, karena ia juga ditarik masuk ke tim bisbol yang pastinya akan menyita waktu Rocky dengan segala hal seperti latihan, nongkrong, latihan, nongkrong, dan pertandingan.

Semua menjadi berbeda ketika Rocky melihat Si Poni Aneh tampak bercakap-cakap dengan Eunwoo. Pemuda itu menjabat sebagai ketua klub jurnalistik sekolah. Jadi apabila buletin sekolah sudah terbit dan isinya mengupas tajam seluk-beluk kehidupan di sekolah, itu pasti ulahnya, karena semua yang ada di klub bergerak atas mandat Cha Eunwoo. Salah satu korban keganasan goresan alfabetikalnya adalah klub bisbol, yang mana beberapa anggotanya pernah terlibat dalam kasus konsumsi alkohol di bawah umur, merokok, dan pengutilan di mal. Klarifikasi mengatakan bahwa itu kasus lama yang dilakukan oleh senior klub bisbol beberapa tahun yang lalu, dan sudah ditindak tegas. Pihak sekolah juga memberikan skors pada mereka dan hukuman pelayanan sosial tiap Sabtu dan Minggu selama satu semester, serta dicoret namanya dari daftar peserta pertandingan.

Namun berita itu diangkat lagi di bawah tajuk kompilasi gelap dalam sejarah klub bisbol, yang akhirnya kembali menghangat dan merusak nama klub itu sendiri. Di sisi lain, prestasi yang berhasil dicapai klub dimasukkan ke kolom kecil di pojok rubrik. Bukankah itu sangat memuakkan?

Rocky—yang sudah diinstruksikan oleh teman-teman dari klubnya untuk membenci Cha Eunwoo—merasa bahwa pertemuan antara pemuda itu dan sahabatnya akan berujung bencana. Cuma para gadis yang menganggap kebusukan Eunwoo itu hanya mitos. Mereka pikir justru ketajaman sepak terjangnya di klub jurnalistiklah yang membuatnya tampak lebih keren. Dan Rocky khawatir Si Poni Aneh adalah salah satu dari sekian banyak gadis itu.

“Ia mengajakku ke Yeoido, kami akan ke Seaworld,” jawab Si Poni Aneh.

“Kencan?” Rocky bertanya waspada.

“Cuma jalan-jalan.” Si Poni Aneh menyahut seraya bercermin dan memerhatikan kesimetrisan poninya yang menurut Rocky dipotong agak terlalu pendek dan membuatnya seperti punya alis kedua di puncak dahi.

“Jalan-jalan, berdua saja, di akhir pekan, di Seaworld. Itu namanya kencan.”

“Kalau sepulang dari Seaworld ia menciumku dan aku menciumnya, baru namanya kencan.”

Rocky memelototinya. Tidak menyangka kata ‘mencium’ bisa meluncur mulus dari mulut Si Poni Aneh yang bentuk poninya Oh-Sumpah-Nggak-Banget itu. Bagaimanapun, ia was-was juga. Bagaimana kalau ternyata mereka benar-benar … dan Eunwoo benar-benar … dan Si Poni Aneh benar-benar …? Rocky tidak akan membiarkan sahabatnya itu masuk perangkap si jurnalis buletin sekolah.

Hal terakhir yang Rocky ingat hanyalah bahwa ia mengultimatum Si Poni Aneh untuk mengikutsertakannya pada acara jalan-jalan ini, yang langsung saja disetujui oleh gadis itu. Makin ramai makin asyik, katanya.

Tapi sekarang Rocky bahkan masih berada di tempat tidur. Ia meraih ponselnya kembali dan menelepon Si Poni Aneh.

“Halo, ya, ya, aku sedang di jalan, kena macet. Pokoknya jangan pergi sebelum aku sampai.”

Mungkin beginilah rasanya jadi obat nyamuk—atau dalam versi Rocky, kotoran cicak. Apanya yang jalan bertiga kalau Eunwoo senantiasa menarik Si Poni Aneh untuk berada dalam radius tiga meter dari Rocky?

Mereka masuk ke 63 Seaworld dan Eunwoo mengeluarkan lembaran-lembaran won untuk karcisnya dan Si Poni Aneh. Lalu masuk dengan santai, sementara Rocky mendapatkan sapaan selamat pagi sekaligus tagihan karcis masuk.

“Bukankah teman-temanku tadi sudah membayarnya?” tanya Rocky.

“Teman-temanmu? Oh, yang dua orang tadi … yang laki-lakinya hanya membayar untuk dua orang. Barangkali ia lupa.”

Dengan perasaan dongkol yang berkali-kali lipat, Rocky membuka dompetnya. Tidak ada 23.000 Won di sana. Menahan geraman, ia bertanya di mana ATM terdekat.

Rocky berhasil masuk setelah memelesat ke mesin ATM dan mengulang antrean dari ekor. Ia mencari Eunwoo dan Si Poni Aneh dan menemukan mereka di gerombolan turis domestik. Eunwoo menggenggam tangan gadis itu dan Rocky berdecak—mereka memang kencan.

“Lho, kau kok baru sampai?” tanya Si Poni Aneh, dan diabaikan oleh Rocky yang pura-pura fokus pada seekor ikan berwarna cerah. Tugas Rocky di sini adalah untuk memastikan bahwa Eunwoo tidak memanfaatkan Si Poni Aneh untuk mengorek rahasia Rocky atau klub bisbol akan punya nama buruk sekali lagi. Tunggu, bukan berarti Rocky takut. Ia merasa tidak pernah melakukan hal-hal yang tak pantas seperti minum alkohol, merokok, pergi ke kelab malam, dan lain-lain. Tapi siapa tahu Rocky melupakan sesuatu yang memalukan dan jika ada orang yang tahu segala aib pemuda itu, orang itu adalah Si Poni Aneh.

Barangkali ini adalah hal paling bodoh dan paling menyusahkan di sepanjang sejarah persahabatan Rocky dan Si Poni Aneh, tapi ia yakin inilah yang paling efisien—Rocky akan menguping obrolan mereka dengan bersembunyi di balik pengunjung yang bertubuh lebih besar darinya, atau di balik gerombolan turis dari Jeju ini.

Si Poni Aneh: Hm? Kebiasaan buruk Rocky?

Eunwoo: Jangan salah paham. Kudengar ia akrab denganmu, dan jika aku ingin akrab denganmu juga, aku harus mengenal sahabatmu, bukan begitu?

Si Poni Aneh: Kebiasaan buruk Rocky, ya …

Rocky: ACHOO!

Eunwoo: Sebenarnya aku menyesal menulis yang buruk-buruk mengenai klub bisbol.

Si Poni Aneh: Menurutku itu tajam, tapi tidak terlalu buruk.

Eunwoo: Tapi tidak ada yang percaya, dan aku tidak bisa membuktikan. Bagaimana pendapat Rocky?

Si Poni Aneh: Yeah … Rocky bilang dia agak marah soal itu.

Eunwoo: Marah karena merasa terhina, atau marah karena tulisanku tepat sasaran?

Rocky: IKAN APA ITU IKAN APA ITU? PIRANHA, WOW!

Eunwoo: Kau lapar? Aku tahu tempat makan yang sehat di sini. Apa Rocky selalu mengajakmu ke tempat yang makanannya higienis?

Si Poni Aneh: Hm, iya.

Eunwoo: Oh, tentu saja. Dia kan anggota inti tim bisbol. Makanan sehat adalah keharusan. Kecuali kalau mereka pakai doping, yang … kau tahulah … ilegal.

Si Poni Aneh: Rocky punya alergi terhadap obat dan suplemen tertentu, ia tidak mungkin pakai doping.

Eunwoo: Aku selalu percaya pada Rocky. Tapi teman-teman di tim bisbolnya, siapa yang tahu?

Rocky: ADA JUN JIHYUN!

Rocky, Eunwoo, dan Si Poni Aneh duduk menikmati makan siang mereka di restoran keluarga di lingkungan 63 Seaworld, dalam keheningan panjang yang sepihak, di mana Eunwoo hanya berbicara pada Si Poni Aneh dan Rocky dianggap kotak sumpit. Barulah ketika Eunwoo bangkit untuk memesan puding, Rocky mencolek sahabatnya.

“Jadi, kalian sudah resmi?” tanyanya, berusaha terlalu keras untuk tidak terlihat peduli.

“Resmi apa?” Si Poni Aneh membalas setelah menelan kunyahan kue beras dan bulgoginya.

“Resmi pacaran.”

“Memangnya kalau dua orang pergi ke Seaworld, pulang-pulangnya harus sudah pacaran?”

“Yah, siapa tahu. Dia sepertinya naksir padamu.”

Si Poni Aneh lantas menggeleng-geleng. “Justru dia naksir padamu.”

“Hah?” Rocky menganga dan mengerutkan dahi.

“Tentu saja. Dia jalan denganku, tapi isi pembicaraannya selalu seputar kau. Apa kebiasaan buruk Rocky? Bagaimana pendapat Rocky? Oh, aku percaya kalau Rocky tidak pakai doping. Aku kalah denganmu, Bung.”

Rocky meringis geli. Si Poni Aneh tampaknya belum dan tidak akan pernah menyadari alasan mengapa Cha Eunwoo mengajaknya. Tapi setidaknya Rocky memenangkan babak kedua permainan akuarium raksasa ini. Alih-alih balas menyukai Eunwoo, Si Poni Aneh barangkali justru kehilangan minat dengan alasan yang sama sekali berbeda.

Eunwoo kembali dan membawakan Si Poni Aneh puding, dan untuk pertama kalinya hari ini, Eunwoo melemparkan senyum lebar dan ceria dan tampan tapi palsunya. “Halo, Rocky! Maaf aku tidak menyadari bahwa kau sedari awal menguntit kami.”

Rocky mendengus dan membuang muka. Perjalanan ini tentu saja tidak mengharapkan kehadirannya. Bahkan Si Poni Aneh tampak santai-santai saja, padahal sedari tadi Rocky sudah berjibaku dengan aksi mengupingnya sampai-sampai menarik perhatian sejumlah pengunjung yang mulai sebal dengan tingkahnya.

“Jadi, apakah semuanya bersenang-senang di akuarium raksasa?” Eunwoo mencairkan suasana demi mendapat nilai tambah. Si Poni Aneh mengangguk dan mengacungkan jempol.

“Baiklah, ayo kita pulang!” Eunwoo bangkit ketika Si Poni Aneh sudah menyapu potongan puding terakhirnya dengan krim di piring.

“Tapi makanan Rocky belum habis,” ujar Si Poni Aneh santai. Eunwoo memandang Rocky dan berkata, “Jadi? Bukankah sejak awal kita cuma jalan berdua?”

“Kalian duluan saja, aku masih mau … er, mampir ke tempat lain.” Rocky sengaja melambatkan gerakannya agar mereka meninggalkannya.

Alih-alih bangkit, Si Poni Aneh memanggil pramusaji restoran dan meminta tagihan untuk seluruh pesanan meja mereka. Gadis itu mengembalikan tagihan beserta sejumlah uang yang ia keluarkan dari dompetnya.

“Lho, lho, kok kau yang …?”

“Biar kita impas. Aku tidak mungkin memintamu membayari seluruh perjalanan ini, Cha Eunwoo,” Si Poni Aneh menjawab ringan. Lantas ia mengambil sumpit dan menjepit kue beras Rocky tanpa izin. Gadis itu mengunyahnya dengan lambat dan sangat menikmati, seolah baru kali ini mengecap rasa kue beras bulgogi.

“Enak sekali ya, makanan ini.”

“Kau tadi juga makan itu,” Eunwoo memberikan kilas balik dengan wajah ditekuk sebelas.

“Iya, tapi yang di mangkuk Rocky rasanya berbeda. Setiap sebelum makan apa pun, Rocky selalu punya racikan sendiri. Dia mencampur beberapa bahan tambahan dengan kadar tertentu, dan itu membuatmu selalu main tebak-tebakan mengenai bagaimana rasa makanan milik Rocky.”

Baik Rocky dan Eunwoo sama-sama menganga. Namun Eunwoo berhasil menguasai diri lebih dulu dan ia langsung melemparkan protes, “Apa perlunya kau menceritakan hal menjijikkan itu padaku?”

Si Poni Aneh menatap Eunwoo dengan muka datar andalannya. “Kukira kau tertarik pada segala tentang Rocky, soalnya sedari tadi kau membahas dia terus, sih.”

Agaknya, Eunwoo kehilangan kesabaran. Ia mendengus kesal, dan itu membuat wajah tampannya berkerut-kerut aneh. Ia bangkit, meraih ranselnya, lantas memandang kedua orang sisanya untuk yang terakhir kali hari itu.

“Aku tidak mengerti mengapa aku masih bersedia berada dalam satu meja makan dengan pasangan aneh seperti kalian. Nah, sampai jumpa besok di sekolah.”

Lalu ia pergi, begitu saja, meninggalkan Rocky yang masih takjub dengan apa yang Si Poni Aneh lakukan pada si jurnalis tampan itu.

“Ia akan menulis tentang kita,” ujar Rocky. “Bahwa kita punya kebiasaan aneh soal makan. Bahwa aku suka meracik sendiri bumbu tambahan di makanan pesananku. Dan bahwa kau sangat aneh karena main tebak-tebakan dengan bagaimana rasa makanan pesananku setelah kuracik ulang. Dia akan melebih-lebihkannya seakan itu menjijikkan dan di atas normal.”

“Aku siap.” Si Poni Aneh menjepit lagi satu kue beras dari mangkuk Rocky sembari tersenyum penuh arti.

“Sudah siap apa?”

“Sudah siap tenar.”

FIN.

Notes

Jadi, kenapa judulnya Fishy? Secara konotasi, I smell something fishy itu berarti ‘aku mengendus sesuatu yang mencurigakan’, dan kebetulan saya dapat settingnya juga yang berhubungan dengan ikan. Enjoy.

 

Advertisements

3 thoughts on “[Together Let’s] Fishy – Vignette

  1. Hahahhahaa kaeci ini kok Eunwoo gitu banget sih wkwkwk terus terus terus pengen ngakak guling guling gegara rocky yang, eum, antara smell smth fishy tapi jeles juga ya? HAHAHAHAHA AKU PENGEN KETAWAIN ROCKY AJA SAMPE BESOK etapi tiba2 mba poni aneh peka dan kemudian Eunwoo yang pergi omai mwehehe. Uhuhuhu as always nice fresh fic kak! 👍💕😀

    Like

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s