Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Event, Mystery, PG-15, Tragedy, Vignette

[Together Let’s] Once Under the Rain – Vignette

once-under-the-rain

Casts Cha Eunwoo [ASTRO], Sparkling Shin [OC] Genre Mystery Length Vignette Rating PG-15 Disclaimer Based on the prompt ‘Dance in the Rain

© 2016 Catstelltales

Eunwoo terserang flu berat hari ini. Hujan deras yang singgah tiap malam kembali memperburuk kesehatannya. Pemuda itu jadi bersin lebih sering dari yang seharusnya, dan gagal meloloskan diri dari penderitaan akibat tenggorokan yang nyeri dan hidung yang tak henti-hentinya mengalirkan cairan kental dan asin. Belum lagi kepalanya yang berdenyut-denyut seakan sebuah gada menghantamnya terus-menerus.

Sayang sekali, flu itu menghampirinya justru ketika ia harus menyelesaikan tugas kelompok bersama ketiga teman sekelasnya di perpustakaan umum. Apa boleh buat, begitulah jika kau dikelompokkan menurut urutan absensi kelas dan kebetulan anak-anak yang namanya berada di sekitar namamu adalah yang paling rajin di antara yang lainnya—Eunwoo segan untuk izin tak ikut. Ia tahu mereka tidak akan mencoret namanya, apalagi ia punya alasan kuat. Namun tetap saja Eunwoo akan sangat merasa tidak enak jika hanya dia sendiri yang tidak ikut.

Pulang malam dengan tubuh meriang dan tenggorokan perih serta hidung berair, Eunwoo membentangkan payungnya dan merapatkan mantel. Rumahnya tak begitu jauh dari perpustakaan, tapi rasanya ia sudah berjalan berkilo-kilo dan belum juga sampai.

Langkah Eunwoo terhenti tepat ketika ia berbelok di jalan lingkungan yang lengang. Di sana, di tengah siraman hujan, dwimanik pemuda itu menangkap sebuah presensi yang agak ganjil. Seorang gadis, dengan mantel panjang yang hanya dikancingkan sebatas pinggang melapisi terusan berendanya, tampak sedang menggerakkan seluruh tubuhnya. Tangan dan kakinya tak pernah diam lama pada satu posisi. Ia seperti sedang menari.

Tunggu. Ia memang menari. Dan tariannya benar-benar lembut namun pasti, gemulai namun bertenaga, cantik namun dinamis. Rambut panjangnya yang basah kuyup melekat di bahunya, berantakan tapi tetap estetik.

Aneh, pikir Eunwoo. Siapa yang menari malam-malam begini di tengah hujan?

Si gadis bersirobok pandang dengan Eunwoo, lantas menghentikan gerakannya. Ia tersenyum dan menyapa, “Halo, yang di sana!”

Alih-alih balas beramah-tamah, Eunwoo mengernyitkan dahi. “Kau anak baru di lingkungan ini?”

Si gadis menggeleng. “Aku sudah lama tinggal di sini. Ini tempatku sejak lahir.”

“Kalau begitu seharusnya kau tahu bahwa di sekitar sini ada gelanggang remaja dan kau bisa latihan menari di sana alih-alih di pinggir jalan.”

“Apa semua orang harus menari di gelanggang remaja?”

“Tidak, tapi ….” Eunwoo berusaha berargumen, tapi tak ada gagasan yang keluar. Lantas ia membelokkan pembicaraan. “Kau tidak takut?”

“Takut apa?” tanya si gadis.

“Yah,” Eunwoo mengangkat bahu. “Takut penjahat, takut kena flu dan demam, atau … oh, kau bisa tersambar petir kalau menari di tengah-tengah hujan deras.”

Si gadis tertawa. “Aku tidak akan tersambar petir,” katanya.

“Dan kenapa begitu?”

“Karena menurut teori Fisikanya, petir hanya menyambar objek yang paling tinggi dan runcing. Aku mungkin akan tersambar petir jika aku menari di tanah lapang, di mana tidak ada objek lain yang lebih tinggi dariku. Tapi sekarang, aku berada di antara berderet apartemen dan ruko. Aku aman. Kecuali kalau aku memang digariskan untuk mati tersambar petir apa pun yang terjadi.”

Eunwoo berusaha mengatasi rasa malunya dengan memasang tampang tidak peduli. Ia bersin dan menggigil lagi. Pemuda itu tidak sabar ingin sampai ke rumahnya, makan malam, minum obat pereda flu, dan pergi tidur. Namun ada sesuatu dari gadis ini yang membuatnya ingin berlama-lama.

“Tahu tidak, kalau dengan menari di tengah hujan seperti itu, orang-orang akan mengira kau gila?”

“Tahu.”

“Lalu mengapa masih kaulakukan?”

“Karena belum ada yang datang padaku dan mengatakan langsung bahwa aku seperti orang gila.”

“Kau seperti orang gila.” Eunwoo menyamakan skor, dan ia tersenyum penuh kemenangan. Si gadis lantas mendengus. “Lalu mengapa kau masih di sini?”

Eunwoo terdiam. Benar, mengapa ia masih di sini? Bukankah ia seharusnya pulang dan berdiang di selimut yang hangat?

“Kupikir aku punya hak untuk berada di mana pun aku mau, karena—“

“Cha Eunwoo?” Ucapan Eunwoo terpotong dan mengambang di udara ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang. Di bawah payung bermotif bunganya, Bibi Shin memandang dengan alis terangkat, ditambah dengan tatapan aneh, seakan Eunwoo baru saja melakukan trik sulap spektakuler.

“Bibi Shin?”

“Malam sekali kau pulang? Hujan-hujanan pula.” Bibi Shin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bicara sendiri pula.”

“Hah? Tidak, kok, Bi. Saya barusan bicara pada ….” Eunwoo baru hendak menunjukkan kehadiran gadis tadi, ketika dilihatnya tidak ada siapa pun beberapa meter ke sana. Cepat sekali gadis itu pergi, pikir Eunwoo. Barangkali ia langsung masuk ke apartemen seberang begitu Eunwoo mengatainya seperti orang gila.

“Pada siapa, Nak?” tanya Bibi Shin. Eunwoo mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi tadi ada gadis menari di sini, di tengah hujan, dan aku sempat berdebat dengannya soal itu. Sepertinya dia kalah ….”

“Kau ….” Bibi Shin kembali memotong ucapannya. Wajahnya terlihat penuh kuriositas, sekaligus tampak seakan ia menyimpan sesuatu. Eunwoo menunggunya melanjutkan kalimat, tapi Bibi Shin menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum sedih. “Tidak, tidak. Tidak mungkin kau bertemu Sparkling.”

“Spar—apa?”

“Sparkling, putriku.”

“Oh, Bibi punya putri? Yah, mungkin saja aku tadi—“

“Ia dulu suka menari di tengah hujan, tepat di daerah ini.”

“Ah, berarti memang dia, Bi … tunggu. Dulu?”

Dulu,” Bibi Shin mengangguk dan mengusap sudut matanya. “Jika hujan yang turun tidak disertai petir yang bersahutan, ia akan keluar apartemen dan menari di luar sini. Barangkali ia masih akan melakukannya hingga sekarang, jika saja sepulang sekolah ia tiba di rumah dengan selamat.”

Untuk sejenak, Eunwoo memilih untuk diam sementara otaknya mencerna satu per satu kalimat yang meluncur dari mulut Bibi Shin. Ia tidak ingin tahu kelanjutannya, sungguh. Ia sudah bisa menduga apa yang terjadi, dan apa hubungannya dengan presensi yang baru saja bertemu dengannya. Tapi Bibi Shin melanjutkan.

“Sepedanya hancur berantakan, dan tabrakan itu membuatnya terlontar sejauh lima meter.”

Jantung Eunwoo berdenyut. Bukan karena flunya yang semakin parah lantaran terlalu lama berada di sini, tapi karena didengarnya suara Bibi Shin bergetar. “Ia seusiamu waktu itu.”

Sepanjang ingatannya, Eunwoo membimbing Bibi Shin masuk ke gedung apartemen mereka, dan mereka bertemu dengan suaminya yang lantas menyambutnya dan mereka terlibat pembicaraan—yang Eunwoo duga—masih mengenai gadis bernama Sparkling itu. Suami Bibi Shin tampak menepuk-nepuk bahu istrinya, mencoba menenangkannya. Sementara Eunwoo masuk ke apartemen orangtuanya. Ayah dan ibunya sudah menunggunya di meja makan, dan ibunya memberinya handuk kering.

Usai mengeringkan badan dan menyesuaikan suhu tubuh, Eunwoo mandi air hangat, makan malam, dan minum obat pereda flu. Di kamarnya, ia menatap ke arah jendela. Apartemen keluarga Eunwoo terletak di lantai tiga.

Entah mengapa, rasa ingin tahu mendorong Eunwoo untuk meraih birai jendelanya dan menggesernya. Ia melongokkan kepala sedikit ke luar, sehingga ia bisa melihat pemandangan di bawah apartemen.

Ia di sana.

Tepat di bawah sana, di bawah curah hujan, Sparkling menari lagi. Lantas gadis itu berhenti, dan mendongakkan kepalanya ke atas, ke arah Eunwoo yang tak lagi sempat menghindar.

Sparkling tersenyum ceria bercampur geli. Ia melambai rendah. Katanya, “Maaf. Tapi hujannya belum berhenti, sih!”

FIN.

Advertisements

2 thoughts on “[Together Let’s] Once Under the Rain – Vignette

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s