Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Ficlet, Fluff, General, Hurt/Comfort

[Ficlet] Lean On Me

wp-1482068082991.png

Lean On Me

by tyavi

|Chaengwoo|

[Astro] Eunwoo and [Twice] Chaeyoung

Romance, Fluff, School life, slight!Hurt/Comfort | Ficlet | G

Soundtrack :

Soyou ft. Kwon Jeong Yeol – Lean On Me

Summary :

When things aren’t working out your way

When you want to be alone, but it gets lonely…

When the way home feels too far…

When you feel like you’ll burst into tears…

lean on me, you can lean on me

.

.

.

Cha Eunwoo terdiam di ambang pintu. Lututnya yang kaku setelah seharian bermain tenis, tak dapat digerakkan. Pundaknya yang pegal karena mengayunkan raket pun ditambah harus menopang backpack berisi botol minum dan pakaian ganti, seketika menegang. Senyum yang terkembang di paras berpeluhnya memudar seiring tatap matanya bertemu dengan sepasang manik milik seorang pria paruh baya. Dari balik kacamatanya, Tuan Cha melayangkan tatapan tajam penuh intimidasi kepada putra semata wayangnya. Tak ada sambutan atau kalimat ‘kau sudah datang?’ yang diterima Eunwoo. Tidak pernah. Lagi pula sang Ayah pun jarang berada di rumah. Kendati demikian, sekalinya Eunwoo berhadapan dengannya, bukan pertanyaan ‘apa kabarmu?’ yang diterima Eunwoo—layaknya seorang Ayah pada anaknya—tapi melainkan…

“Bagaimana bisa nilai kimiamu turun?”

Eunwoo bahkan belum sempat menarik napas saat map berisi hasil laporan nilainya semester ini dilemparkan Tuan Cha ke lantai. Jatuh berserakan hingga menyentuh ujung sepatu Reeboknya.

“Apa 9,8 kau sebut nilai? Kalau kau tidak bisa mendapatkan nilai 100, nilai itu tidak ada artinya!”

Dan tanpa Eunwoo sempat mengeluarkan satu patah kata pun—seperti biasanya, Tuan Cha bangkit dan berjalan keluar kamar Eunwoo. Kala raganya bersisian dengan tubuh putranya yang masih mematung, tak ada senyum hangat atau tepukan di bahu sebagai penyemangat. Tapi melainkan sebuah petuah yang terdengar pahit di telinga Eunwoo.

“Berhentilah bermain-main di organisasi konyol itu—Ketua Student Council apanya. Dan fokus pada persiapan masuk universitas.”

***

Ini sudah kelima belas kalinya Eunwoo mengganti posisi tidurnya dalam kurun waktu setengah jam. Setelah memutuskan untuk mengerjakan 50 soal kimia—dan menyerah satu jam kemudian karena tidak dapat fokus—Eunwoo putuskan untuk tidur lebih cepat. Tapi setiap matanya terpejam selama sepuluh detik, kelopaknya kembali terbuka. Selalu seperti ini. Setiap kali Eunwoo berhadapan dengan Ayahnya, ia tidak bisa tidur di malam harinya. Setiap kalimat yang keluar dari bibir pria paruh baya itu selalu berputar-putar di benaknya dan menginvasi pikirannya.

Dan juga menjadi alasan mengapa Eunwoo selalu meraih peringkat satu sejak Sekolah Dasar.

Semua itu demi memuaskan ambisi Tuan Cha pada putra semata wayangnya. Yang tak lain akan menjadi penerus perusahaannya di masa depan. Selama tujuh belas tahun hidup Eunwoo disetir oleh Ayahnya. Dijejali oleh kemampuan akademis, bermusik, segala bidang olahraga, dan kompetensi lainnya yang bahkan tak Eunwoo inginkan. Menjadikan ia sosok sempurna yang pantas dipamerkan di acara perkumpulan orang-orang terpandang. Status sosial, peringkat akademis, dan paras rupawan yang dimiliknya saat ini, tidak berarti sama sekali bagi Eunwoo. Karena itu semua diraihnya bukan karena kemauannya sendiri.

Tapi ia bisa apa? Mengeluarkan satu patah kata saja tidak bisa, apalagi mengutarakan penolakan.

Tubuh Eunwoo berganti posisi lagi, membuatnya dalam posisi terlentang sekarang. Dihelanya napas berat untuk yang kesekian kali. Dengan sebelah tangan, diraihnya benda persegi panjang yang semula terbenam di balik selimut tebalnya. Telunjuknya bergerak cepat membuka kunci, menuju menu telepon dan menyentuh angka dua selama beberapa detik hingga layarnya menampilkan foto seorang gadis bersurai sebahu. Eunwoo menatap pada ponselnya yang sedang melakukan panggilan. Manik hazelnya tak berkedip sampai terdengar suara perempuan dari ujung sana.

“Halo, Ketua?”

Suara yang serta merta menimbulkan kurva di paras masam Eunwoo.

“Kau sedang apa, Nona Wakil?”

“Uh? Aku sedangah, tunggu! Apa ini hari sabtu?”

Eunwoo berdeham menanggapi pertanyaan gadis yang bernama lengkap Son Chaeyoung itu.

“Astaga! K-ketua, maafkan aku! Aku benar-benar lupa, sungguh! Sekarang juga akan kukerjakan laporannya!!” respon Chaeyoung heboh. Baru ingat dengan tugas yang diberikan Eunwoo jumat kemarin, sebelum mereka pulang. Sekarang Eunwoo sudah tidak mengadakan menggarap-laporan-di-sekolah-pada-akhir-pekan sehingga mengharuskan gadis itu mengerjakannya di rumah. Dan Eunwoo akan menelepon di hari sabtu untuk menanyakan sejauh mana laporan dibuat atau video call pada hari minggu jika ada sesuatu yang harus dibicarakan bersama. Tapi sejujurnya, kalau bukan karena Chaeyoung menyinggungnya sekarang, Eunwoo sama sekali tidak ingat perihal laporan itu.

“Tidak perlu, ini masih minggu pertama.” Eunwoo berujar seakan bisa melihat Chaeyoung yang baru saja akan bangkit dari ranjang dan mengambil laporan di meja belajarnya. Eunwoo menghirup oksigen sejenak sebelum kembali bersuara, “Sekarang jangan lakukan apapun, dan dengarkan aku.”

Sejenak hening merambati sambungan telepon mereka. Namun dua detik kemudian terdengar lirihan—

Apa Ketua akan memarahiku? Apa sebentar lagi dia akan menceramahiku seperti ibu-ibu?”

—yang lebih tepat dibilang bisikan untuk diri sendiri. Yep, sepertinya gadis Son itu sedang menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Eunwoo tertawa karena tingkah bodoh partner-nya. Baru saja Eunwoo membuka mulut, hendak bersuara, tapi Chaeyoung sudah lebih dulu berseru.

“Ketua, maafkan aku! Tadi aku habis dimarahi Ayahku karena salah mengantarkan pesanan pelanggan. Kau tahu ‘kan kalau aku selalu membantu di Café Ayahku setiap akhir pekan. Makanya tadi aku disuruh menutup Café sampai jam 8 ma—”

“—kau habis dimarahi Ayahmu?” Eunwoo memotong pengakuan dosa Chaeyoung.

“Iya. Tadi aku salah mengantarkan doubleshot espresso dengan café latte.”

“Bodoh, warnanya ‘kan berbeda.” Eunwoo tertawa.

“Iya, aku tahu! Tapi tadi orang yang memesan memakai sweater yang sama, makanya aku salah mengantarkan.”

“Lalu?”

“Lalu apanya?”

“Lalu kau buat kesalahan apa lagi? Tidak mungkin seorang Son Chaeyoung hanya membuat satu kesalahan dalam sehari.”

“A-apa? Kau meremehkanku, uh? Setelah itu aku hanya tidak bisa membedakan krimmer dengan baking soda, kok!”

“Kau ini memang bodoh.”

“Aish, Ketua!”

Setidaknya Eunwoo bisa tertawa lepas malam itu.

***

“Kau sudah mau pulang?”

Pertanyaan itu sampai di telinga Chaeyoung saat tangannya baru saja menyampirkan tas ransel berwarna pink-nya. Menghentikan pergerakan dan melayangkan pandangan pada Eunwoo yang kini menatapnya, Chaeyoung menjawab. “I-iya, bukankah ini sudah jam pulang?” Merujuk pada jam dinding yang menunjukkan pukul 4 sore. Waktunya ia pulang setelah menggarap laporan selama satu jam—sesuai aturan Eunwoo selama hari biasa—setelah bel berakhirnya kelas.

Dari balik meja kerjanya, Eunwoo menghela napas. Pundaknya melorot dan punggungnya kembali bersandar pada sandaran kursi. Raut wajahnya terlihat lelah, entah karena aktivitas sekolah atau mungkin ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Setelah mengurut sejenak pelipisnya, Eunwoo kembali menyarangkan tatapan pada Chaeyoung yang masih setia menunggu ucapan Eunwoo.

“Tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi?” pandangan matanya sendu dan surai kelamnya diacak asal.

“Eh?” refleks Chaeyoung. Manik karamelnya membelalak dan pegangannya pada ransel mengendur hingga benda itu jatuh tersungkur.

Sadar dengan apa yang dikatakannya barusan, Eunwoo buru-buru bangkit dari kursinya. “L-laporan kemarin ‘kan belum kau selesaikan. Jadi kau harus lembur sekarang!”

“O-oh, begitu maksud Ketua. B-baiklah, aku tidak jadi pulang.” Chaeyoung kembali mendudukkan diri di kursinya dan mengambil salah satu map di atas meja. Sedang Eunwoo yang masih berdiri, kembali mengusak surainya frustasi.

“Y-ya, memang harus seperti itu! Wakil Ketua Student Council tidak boleh pulang tepat waktu dan malas-malasan di rumah!”

“Hah?”

“Aku mau beli kopi dulu.”

Eunwoo berlalu cepat, meninggalkan ruang Student Council dan juga ponsel miliknya yang menampilkan pesan bertuliskan:

“Ayahmu ada di rumah. Cepat pulang.”

***

Chaeyoung tengah menyantap potongan buah mangga segar sambil menonton drama Korea favoritnya sore itu kala ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Setelah membaca sekilas nama si penelepon, Chaeyoung segera menggeser tombol hijau di layar smartphone-nya.

“Halo, Ketua?”

“Kau sedang apa, Nona Wakil?”

Chaeyoung hampir saja tersedak kala pertanyaan itu terdengar dari seberang sana dan bukannya kata pembuka. Apa Ketua tahu aku sedang leha-leha saat ini?, gumamnya dalam hati. Karena entah kenapa, partner-nya itu selalu meneleponnya di saat ia sedang menikmati hidupnya seperti saat ini—seakan Cha Eunwoo memiliki mata-mata di sekeliling Son Chaeyoung.

“Aku sedang menikmati hidupku,” jawab Chaeyoung sekenanya. Trauma karena saat ia mengaku lupa mengerjakan laporan sabtu lalu, ia jadi harus lembur di hari biasa.

“Hah?”

“Ketua sendiri sedang apa? Kenapa tiba-tiba meneleponku sabtu sore begini?”

“Aku baru saja saja selesai main tenis. Memangnya aku tidak pernah memberitahumu kalau aku selalu main tenis pada hari sabtu? Dan aku menelepon untuk tahu bagaimana kinerja Wakilku pada akhir pekan begini. Siapa tahu kau sedang santai-santai sehingga bisa lembur dari senin sampai jumat ‘kan?”

Chaeyoung menjauhkan sejenak ponselnya dan mencebikkan bibir seakan ia sedang mencibir Eunwoo. Beruntung ini bukan panggilan video.

“Kinerja Wakilmu baik-baik saja, Ketua. Dan tidak, terima kasih untuk tawaran lemburnya. Sebaiknya Ketua fokus saja menyetir, jangan khawatirkan laporannya.” Chaeyoung berbicara sambil memasang senyum manis palsu seakan ia benar-benar berhadapan dengan Eunwoo.

“Aku tidak sedang menyetir ‘kok.”

“Lho, tadi katanya—”

“Aku memang mau pulang, tapi aku tidak bilang kalau aku naik mobil ‘kan? Aku jalan kaki.”

“Hah?!” Apa Chaeyoung yakin Ketuanya yang super tampan dan cerdas itu masih waras? Jalan kaki dari tempat latihan tenis sampai rumah?

“Jalan kaki bagus untuk kesehatan, Nona wakil. Sesekali kau harus mencobanya.”

Oh, tidak. Terima kasih.

“Nah, agar waktuku tidak terbuang sia-sia, sekarang coba kau bacakan laporan yang sudah kau buat. Jadi aku bisa mengoreksi kesalahanmu sebelum ditanda tangani Kepala Sekolah senin besok.”

fin

tyavi’s little note : so smooth eunu, smooth! Bisa bet yak modusnya /ga

btw itu chaeng antara ga peka atau udh biasa ditanyaain lagi apa sama eunu (padahal mah kalo cewek kan ditanyain gitu baper /ea) soalnya chaeng ngirainnya eunu nanyain dia udh ngerjain laporan apa belon XD

dan chaeng juga tanpa sadar udh jadi healer /ea/ nya eunu setiap dia frustasi ngadepin bapaknya. Gud job dek chaeng.

Udah lama beud ya ampun ga bikin epep chengwu. Semoga engga pada bosen ya ❤

Advertisements

Author:

Jung Hamji | 97Line | RNA

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s