Posted in Brothership, Ficlet, Fluff, PG-13, Slice of Life

[2nd OPREC] Can we survive?

can-we-survive

Can we survive?

[Astro] Eunwoo Myungjoon [OC] Bennedict Claire

genre family fantasy fluff rated teens length ficlet

Disclaimer

ohclaren 2016©

.

Don’t worry, it’s summer dude!

.

.

Tangan mungil nan kurusnya masih setia mengarau ke dalam gelas susu dengan sendok, maniknya bergerak gelisah. Berusaha menjatuhkan pandang pada objek apapun di ruang Madam Hanz, kecuali sepasang emerald yang seakan menelanjangi tubuhnya dengan tatapan penuh intimidasi.

“Myungjoon?”

Madam Hanz pun sama sekali tidak membantu dengan memanggil namanya untuk kesekian kali karena selalu kehilangan fokus, dia mendelik galak lewat kacamata bingkai kotaknya mengisyaratkan Myungjoon lekas berterimakasih atas segelas susu yang dia dapat.

Mengisi alveolusnya dengan udara sebanyak mungkin, Myungjoon tersenyum getir mengucapkan terimakasih pada pemilik sepasang manik emerald itu.

“Dia anak yang manis. Aku suka.”

Meskipun balasannya adalah sebuah pujian dan lintangan senyum lebar, tetap saja Myungjoon tidak bisa mengabaikan perasaan mual di dasar perutnya. Emerald hijaunya kepalang mengingatkan Myungjoon akan pria jahat yang sering dia tonton di televisi—secara diam-diam—bersama Eunwoo.

“Kau dengar itu? Akhirnya ada yang memujimu manis.” Madam Hanz menimpali dengan air muka cerah. Yeah, dengan berkurangnya satu anak, uang yang dia keluarkan tentu saja berkurang.

 “Kuharap kau mengerti bahwa dia anak yang sangat aktif—jadi tolong jangan tanyakan di mana semua luka itu berasal. Dia anak Asia seperti yang kau cari, kuharap kau menyukainya.”  ujar Madam Hanz menjilat tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya melepas Myungjoon.

“Aku tidak akan pergi tanpa Eunwoo.” sebuah seruan keberanian setelah sekian lama mengkeret di sofa tua bulukan, membuat Myungjoon kembali mendapat delikan galak dari Madam Hanz berbaur kepanikan.

“Apa dia temanmu?” bertanya dengan penuh senyum, pria bermata hijau itu membungkuk mendekati Myungjoon.

“Dia saudaraku.” jawab Myungjoon berusaha mengabaikan eksistensi kemarahan Madam Hanz lewat matanya. Mendapat pukulan rotan di betis jauh lebih baik dibandingkan harus bersama pria bermata hijau itu dan meninggalkan Eunwoo.

“Kebetulan aku butuh dua.”

Menjatuhkan harapan Myungjoon, pria bermata hijau itu kembali melintangkan senyum. Giliran dwimanik Madam Hanz yang bergerak gelisah, tidak yakin dengan ide dari si pengadopsi anak asuhnya.

.

Bennedict akhirnya mengerti kegelisahan Madam Hanz ketika ia menginginkan saudara Myungjoon untuk ikut bersamanya.

“Perlu bantuan, he?”

“Jauhkan tanganmu dari adikku.”

Bennedict mundur selangkah setelah Myungjoon mendesis galak padanya, membiarkan bocah lima belas tahun itu berusaha sendiri menggendong Eunwoo dari kursi roda dan memasukkannya ke dalam Benz hitam miliknya. Eunwoo jauh lebih bersahabat dibandingkan Myungjoon, jika Bennedict ingin membandingkannya.

Bennedict sudah membayangkan bahwa Myungjoon dan Eunwoo pastilah terlihat tampan dengan setelan yang akan dia beri sebagai pengganti t-shirt lusuh yang melekat saat ini. Ha, Ayah dan Ibunya pun tidak akan sadar jika Bennedict memungut mereka berdua di panti asuhan Madam Hanz.

Bennedict lekas masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi. Ditatapnya lekat-lekat dua bocah yang baru dia adopsi dari Madam Hanz, kemudian mengangguk-anggukkan kepala meyakinkan diri bahwa Myungjoon adalah orang yang tepat, meskipun karenanya dia mendapat tambahan beban.

Nah. Kalian harus dengarkan aku. Jujur saja aku tidak suka anak kecil, terutama bocah sombong sepertimu.”  Bennedict mendorong pelan kepala Myungjoon dengan telunjuknya, kemudian beralih pada Eunwoo.

“Bocah tanpa kaki sepertimu juga pasti sangat merepotkan, tapi aku tidak punya pilihan selain mengadopsi kalian karena aku tidak sudi menikahi  gadis China sialan itu.”  jelasnya dengan nada secepat kereta express.

“Boleh aku memanggilmu Dad?” tanya Eunwoo berseri, jelas dia tidak mengerti atau tidak mau mengerti dengan apa yang baru Bennedict jelaskan tentang sejarah singkat dia bisa diadopsi.

Bennedict menggerutu dalam suara pelan sebelum berucap “Terserah.”

“Dia pasti orang kaya bukan?”

Benneditc refleks menegakkan punggungnya seolah berharap Eunwoo bisa membaca merk Dolce Gabana pada setelan yang dipakainya.

“Tentu saja aku kaya, bocah. Dan aku butuh kalian untuk mendapatkan kekayaan lebih dari orangtuaku tanpa harus menikah.”  ujar Bennedict tanpa peduli Myungjoon yang mengirimkan tatapan menusuk lewat kaca spion.

Benz hitam milik Bennedict meninggalkan pekarangan mungil panti asuhan Madam Hanz, Myungjoon menempelkan wajahnya ke kaca jendela berharap ini bukan kali terakhir dia bisa menikmati musim panas, sekejam apapun Madam Hanz, wanita gemuk itu masih cukup dermawan dengan membiarkan Myungjoon memelihara serangga setiap musim panas berlangsung.

“Aku belum mengucapkan selamat tinggal pada Sofia.” gumam Eunwoo pelan.

“Kau masih bocah, jangan memikirkan tentang perempuan dulu.” sahut Bennedict yang kebetulan mendengarnya.

“Sofia itu belalang, bodoh.”

Alih-alih menjitak kepala Myungjoon atas umpatannya, Bennedict tertawa dengan keras. Sedikit banyak membuat Myungjoon berpikir bahwa pria itu lebih dari cukup untuk mengasuh mereka.

Eunwoo tidak berhenti berdecak dan bergumam kagum dengan pemandangan kota London yang mereka lewati, maklum dia belum pernah bepergian sebelumnya. Berbeda dengan Myungjoon yang acap pergi menemani Madam Hanz berbelanja.

“Apa itu kiamat?” Eunwoo bertanya untuk kesekian kalinya setelah membaca salah satu poster dari sekumpulan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan.

“Lebih baik kau tidur saja.” sahut Bennedict, dia sudah cukup pusing dengan perkara warisan orangtuanya dan orang-orang di jalan semakin bertindak aneh dengan issue bodoh di tahun 2012 ini. “Oi, bisa kau tidurkan saja adikmu itu?” suruh Bennedict.

Myungjoon menepuk-nepuk pundak Eunwoo dan berujar menenangkan “Ini adalah musim panas, kita masih bersenang-senang.”

Bennedict tersenyum tipis, kembali menginjak gas membelah jalanan padat kota London. Myungjoon dan Eunwoo nyaris terlontar ke depan akibat gerakan tiba-tiba Bennedict menginjak rem. Sebelum Myungjoon sadar akan jalan terbelah di depannya, sekawanan besar burung di langit yang terbang panik mengabarkannya bahwa ini mungkin musim panas terakhirnya.

.

Menggigil dengan tubuh basah kuyup dan tanpa alas kaki, jas milik Bennedict yang tersampir di tubuh mungilnya sama sekali tidak membantu, juga isak tangis dan erangan kesakitan yang masih dia bisa dengar dari penumpang lain di antara deru mesin heli.

Ukh..” erangan pelan lolos dari bibir Myungjoon. Semuanya terjadi begitu cepat, gempa bumi dasyat yang meruntuhkan Big Ben, disambung ombak besar yang menggulung seluruh kota. Myungjoon bahkan tidak yakin dia masih bernapas dan menyaksikan sendiri gulungan air menelan jalan yang baru tiga puluh menit lalu dia lewati dari atas sini.

“Jangan kau lihat lagi.”

Myungjoon menoleh ke asal suara husky di sebelahnya, airmatanya melesak keluar tak sanggup menerima fakta bahwa Bennedict kehilangan mata kirinya, setelah mati-matian mengeluarkan Eunwoo dari reruntuhan gedung yang menimpa Benz hitam miliknya.

“Jangan menangis, kau tidak malu dengan adikmu?”

Myungjoon menunduk mengusap kasar matanya dengan punggung tangan, yang bisa dia lihat hanya tubuh bergetar Eunwoo dalam pelukan Bennedict.

“A-apa yang akan kita lakukan?”

Tawa yang sama kembali terdengar ketika Myungjoon menyebutnya ‘bodoh’. Sesal menyeruak di benak Myungjoon kala sadar bahwa Bennedict jauh lebih baik dengan sepasang emerald hijaunya.

“Berdoalah bahwa kita adalah pemeran utama dari cerita sialan ini.”

Bennedict mengusap pucuk kepala Myungjoon dengan tangan penuh luka miliknya dan kembali berkata dengan santai.

“Don’t worry, it’s summer dude!”

.

 

—Fin.

 

 

talk-talk

  1. Aloha, its Beby on #team00line.
  2. Akh, ini absurd i know.
  3. Ini juga postnya telat,  mianhe hajima saranghae.
  4. Heung, makasi sudah menerima writer sepertiku disini ❤
  5. Ululu puja kerang ajaib, see yah!

 

Advertisements

Author:

Don't worry I am slow driving type but please stop copying meh

6 thoughts on “[2nd OPREC] Can we survive?

  1. Beeeeeb, wayyy kuterbayangkan benedictnya macam benedict yg aktor sherlock holmes. Nyebelin tapi baik gituuu. apalagi pas bagian menegakkan punggung biar merk pakaiannya kebaca. Wkwk

    Dan,
    Selamat datang di AFFI(????)

    Like

    1. EH ASTAGAH DIBACAAH AMA MAY LOVELYZ TANTE NAD ❤❤❤❤
      huhu ini mentah banget kaak ajarin daku bkin narasi cem dikau huhu /sodorin muka oppa/
      e cie cie nti klo menang di event sebelah boleh lhah ya hadiah dibagi ahai 😳
      Akh, kutjintah padamu mwamwamwa

      Like

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s