Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Brothership, Ficlet, General, Hurt/Comfort

[2nd OPREC] Wishes – Ficlet

04e731413036e964073d66937efd8626

WISHES

 

ficlet by maginesu

rated G

brothership, hurt/comfort

word count || 976 words

 

starring ASTRO’s Moonbin, SVT’s Vernon Chwe

disclaimer || I own the plot, please don’t plagiarize

 

 

||  Summary  ||

Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Suatu sore, satu diantara mereka berkata, “Bagaimana jika ini adalah musim panas terakhir kita? Apa yang akan kaulakukan?”

.

.

.

.

.

Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Suatu sore, satu diantara mereka berkata, “Bagaimana jika ini adalah musim panas terakhir kita? Apa yang akan kaulakukan?”


Pertanyaan itu terlontar dengan ringan dari lisan Moonbin, namun agaknya membawa segenap perubahan suasana dan raut wajah si lawan bicara. Moonbin tergelak sendiri.

“Hei, hei. Sudahlah, aku hanya bercanda.”

Vernon membalas dengan ulas senyum kemudian, lantas melanjutkan konversasi dengan mengangkat topik lain.

Begitulah, sore itu berakhir seperti biasa. Setelah empat puluh lima menit berlalu, Vernon mengulurkan tangannya untuk menerima cangkir dari tangan Moonbin, lalu membawanya pergi. Moonbin mengambil beberapa menit lagi untuk sekedar menikmati hening serta semilir angin.  Ia mulai memejamkan mata saat…

“Bin,”

… Vernon yang sudah akan masuk ke dalam rumah memanggilnya.

Moonbin menoleh, mendapati karibnya tersenyum simpul di ambang pintu.

“Gitar, kau masih menginginkannya?”

Tak punya ide tentang arah pembicaraan Vernon, Moonbin mengendikkan bahu, memilih untuk tak berspekulasi secara berlebihan terhadap interogasi ringan tersebut.

“Tentu.”


Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Terutama pada seminggu awal musim panas, di sore hari. Moonbin dan Vernon tinggal di apartemen sederhana di pinggiran kota Rochester, Monroe. Keduanya masih belia, namun tak kenal dengan kehidupan sekolah pun universitas. Vernon pergi dua kali sehari ke tempat bekerja paruh waktunya—sebenarnya ia punya empat, namun Moonbin terus-terusan khawatir dan memaksa untuk berhenti membunuh diri sendiri secara perlahan (“Kau sangat hiperbolis, Bin, sungguh”). Sedangkan Moonbin, dengan kanker hati stadium dua yang diidapnya, Vernon balik bercemas-cemas dan secara keras melarang anak itu untuk keluar dari area apartemen.

Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Terutama pada seminggu awal musim panas, di sore hari. Well, hari ini masih hari ketiga musim panas dan sekarang pukul tiga lebih tiga puluh sore. Tapi nyatanya, Vernon tidak ada di rumah. Moonbin termenung sendiri di sofa kecil lusuhnya, bolak-balik menilikkan ujung mata ke jam dinding maupun arloji. Pada hari biasa, si bocah Amerika itu berangkat pukul empat pagi dan pulang di waktu sarapan, lalu kembali menghilang saat jarum jam menunjuk angka sepuluh. Ia mengambil shift pagi di swalayan dimana itu berakhir paling lambat pukul dua. Moonbin melirik benda bulat di pergelangan tangannya dan, tiga lebih tiga puluh tujuh.

Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Terutama pada seminggu awal musim panas, di sore hari. Moonbin tak tahu sejak kapan ia begitu tergila-gila pada waktu dan menghitung acap kali jarum panjang berdetak. Namun sungguh, keabsenan presensi karibnya di ruang kecil nan sederhana mereka ini cukup mengganggu. Biasanya, mereka sudah berdiri bersisian di balkon pada waktu ini. Dengan jemari masing-masing memeluk lengan cangkir berisi kopi atau cokelat hangat, angin semilir yang mungkin lewat dan meniup ujung surai, serta konversasi ringan yang mengisi keheningan. Dan Moonbin selalu merasa hangat, sejuk, nyaman, hingga tak ingat untuk menyesali onggokan kanker dalam heparnya.

Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Terutama pada seminggu awal musim panas, di sore hari. Dan sepertinya tidak untuk hari ini.


“Vernon?” Moonbin menoleh cepat kala terdengar suara pintu apartemen dibuka. “Dari mana saja?”

Akhirnya, setelah dua hari penuh ia habiskan sendiri di dalam ruang pengap bercat putih ini, kenampakan Vernon bisa disaksikan. Dua hari penuh, dalam arti Vernon berangkat sebelum fajar sempat menyingsing dan pulang beberapa puluh menit melewati tengah malam.

“Hai, ung.” Laki-laki itu cengengesan. Mengambil beberapa langkah lagi ke dalam ruangan, kini Moonbin dapat dengan jelas menyaksikan betapa menyedihkannya rupa Vernon. Bulatan hitam di bawah mata, surai cokelat emas yang lusuh nan berantakan, jaket hitam yang agak berubah warna akibat debu dan asap, dan…

“…. dan apa yang kau bawa pulang itu?”

… tertenteng sebuah tas besar di lengan kanan Vernon, yang bentuknya menyerupai, gitar?

Vernon terkekeh pelan. Moonbin masih menatapnya penuh heran, tapi ia tak ambil pusing tentang hal itu. Mendekati si rekan serumah, Vernon menyodorkan benda yang mengundang atensi Moonbin sejak tadi.

“Ini.”

“…. apa?” Moonbin masih terdiam, tak peduli tentang kecapaian lengan Vernon yang masih menjulurkan benda berat itu. “Ini apa?”

“Gitar.” lontar Vernon santai. Begitu santai, tak sebanding dengan kelopak matanya yang terlihat segera ingin diistirahatkan.

Moonbin masih diam di tempat, dan lengan Vernon memang mulai pegal. Ia pun memberikan paksa benda itu sebelum akhirnya mengikut posisi Moonbin yang duduk di sofa.

“Vernon…”

Alih-alih menjawab atau segera memberi penjelasan, Vernon lebih memilih untuk menyambar remote televisi dan menggonta-ganti channel menuju acara yang ia sukai—ia punya selera yang jauh berbeda dengan Moonbin.

“… apa saja yang kau lakukan, hah?”

Kini Moonbin pun mulai berkonklusi. Vernon tidak pulang selama dua hari dan tiba-tiba pulang membawa benda yang sudah ia umbar sebagai salah satu dari sekian daftar keinginannya. Gila, Vernon sudah gila.

“Hanya ini dan itu,”

Vernon masih bergeming dan keras kepala, tak benar-benar bersedia untuk memberi eksplanasi berlebih pada Moonbin.

“Tapi ‘ini dan itu’-mu berarti menghilang selama dua hari dan tiba-tiba pulang dengan…” Bin memotong ujarnya sendiri. Ia masih tak punya hati untuk menyebut-nyebut gitar yang sudah ia simpulkan dibeli menggunakan uang Vernon itu. “…sungguh, Vernon. Kemana saja kau?”

Tawa kecil yang disuarakan Vernon kembali mengudara. Moonbin mulai kehilangan kesabaran. “Vernon, kau sungguh gila. Dasar, keras kepala. Kenapa kau….,” Laki-laki itu benar-benar kehabisan kata-kata. “Tck.”

Detik selanjutnya, Vernon menekan tombol merah di remote-nya dan akhirnya menghadap Bin dengan benar. “Iya, iya. Aku memang mencari uang tambahan selama dua hari itu untuk menggenapi tabunganku yang ingin kubuat membeli gitar untukmu.” Mulut Moonbin mulai menunjukkan tanda-tanda keluarnya omelan lain, namun segera dibungkam oleh Vernon. “Tapi ini semua salahmu juga, asal kau tahu!”

“Sa-salahku? Memangnya kenapa?!”

“Kau,” Vernon menghela napas dalam. “Kalau kau tidak bilang tentang ‘musim panas terakhir’ atau ‘apa yang ingin kulakukan’, aku juga tidak akan melakukan ini!”

Dan seketika Moonbin tercengang. Kedua bibirnya berhenti mengatup, namun tak mengeluarkan suara apapun.

“Aku tak pernah berharap ini akan menjadi musim panas terakhir kita atau apalah itu, tapi…”

“…aku hanya ingin mengabulkan salah satu permintaanmu, Bin.”


Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Terutama pada seminggu awal musim panas, di sore hari. Keduanya tak tahu kapan hal itu akan berakhir, tapi juga tak mau pusing memikirkannya.

.

.

.

-fin.


  • Halo semua, kenalkan saya hyeon 01L, author baru di AFFI. mohon bantuannya:))
  • Maafkan saya agak molor nge-accept invitation dan nge-post fic debut><
  • Maafkan (2) poster yang pas-pasan dan mungkin beda sama yang dikirim kemarin. Masalahnya aku ganti laptop dan file-nya entah kemana menghilangnya:”
  • Makasih! Makasih tentu saja buat kakak owner dan admin, sekaligus author sekalian yang sudah mengizinkan saya join as AFFI family! Senangnya gak ketulungan, lho:”))
  • Mm, maaf lagi deh (3) bikos aku gak bisa janji bakal aktif banget karena besok sudah mulai kuliah :” maklum, maba, masih polos dan gak tauapa-apa (ngelantur) Etapi, kuusahakan tetap nengok dan post fic minimal satu atau dua kali sebulan, kok! 🙂
  • Salam kenal sekali lagi
  • Mohon bantuannya! (sekali lagi)
  • See ya;)
Advertisements

Author:

just an amateur fic writer who loves to be pure yet doesn't know what pure means itself

3 thoughts on “[2nd OPREC] Wishes – Ficlet

  1. ceritanya keren.. awalnya agak gak sreg (?) kenapa Vernon yang jadi cast. muka udah beda, umur doang sama. tapi kayaknya penempatam castnya udah cocok kalau ceritanya dibaca secara keseluruhan. well.. nice fic lah

    Liked by 1 person

    1. halo kak nara^^ iya, aku juga pertama mikir mungkin nggak cocok-cocok banget. tapi entah kenapa akhir-akhir ini lagi suka masang-masangin cast yang nyelewar(?) banget wkwkwk. anyway makasih banyak udah baca dan mau ngereview juga:)) thankies:))

      Like

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s