Posted in Astro Fanfiction Indonesia, AU, Psychology, Slice of Life

[2nd OPREC] Our Wish – Ficlet

OUR WISH copy copy

Our Wish

Tob present

Moonbin – Rocky

AU!, Slice of Life, a lil bit!Psycho – PG-15 – ±956w

Disclaimer: Semua ide dipinjamkan Allah SWT kepada saya. Termasuk cast juga. Enjoy it!

Summary:

Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Suatu sore, satu di antara mereka berkata, “Bagaimana jika ini adalah musim panas terakhir kita? Apa yang akan kau lakukan?”

:::

Musim panas masih gencar menyerang bumi Seoul. Saat itu aku sedang duduk seperti biasa di depan halaman rumah keluarga Rocky dengan pemandangan matahari senja. Tempat tinggalku tepat berada di samping rumahnya. Sejak kecil aku dan Rocky selalu menghabiskan waktu luang bersama. Biasanya hanya bermain di halaman atau jika sudah bosan pergi ke tempat-tempat lain yang menyenangkan.

Rocky yang tadi baru saja mengambil kudapan dan es jeruk sudah kembali. Temanku ini mengenakan kaus tipis putih gambar Voldemort dan celana pendek biru muda. Aku tak pernah mengerti seleranya. Bagaimana mungkin seseorang bisa sangat menyukai tokoh jahat dalam sebuah film? Baiklah. Rocky tidak sendiri, karena kudengar ia punya kelompok yang sama-sama pecinta Voldemort.

“Hari ini benar-benar panas sekali!” Rocky berucap sambil menarik kipas yang ada di meja.

Aku sangat setuju dengan ucapannya. Hari ini benar-benar panas dan kudengar dari berita sampai 37 derajat celcius.

“Mungkin bumi sudah lelah. Ia ingin segera musnah,” jawabku sekenanya. Tapi itu kenyataan. Bumi sudah ada sejak zaman Purba dan sekarang sudah zaman Milenium. Berapa lama bumi bertahan di galaksi Bima Sakti ini, coba?

Rocky berhenti mengipas tubuhnya. Ia menatapku kemudian, “Kalau bumi musnah sebentar lagi, bagaimana jika ini musim panas terakhir kita? Dan apa yang akan kau lakukan?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang kita sukai. Nah, apa yang kau sukai Rocky? Kita bisa merealisasikannya sekarang sebelum kita berdua hilang dari kehidupan.”

Rocky bergeming. Detik kemudian ia mengalihkan atensinya ke jalanan. “Memangnya apa yang kau sukai, Bin?”

Aku terdiam. Entah apa yang kusukai dan ingin aku lakukan sekarang. Rasanya semua hal yang aku inginkan sudah tercapai kecuali…

“Aku ingin menyatakan cinta pada Eunbi.”

Rocky tertawa. “Benarkah? Kalau begitu, ayo cepat realisasikan sekarang juga. Apa saja yang kau perlukan?”

Sebenarnya Eunbi adalah tetangga kami juga. Rumahnya berada tepat di depan tempat kami sekarang. Aku sudah menyukainya sejak lima tahun yang lalu. Wah, sudah lama sekali ternyata. Tapi masih lebih lama Jinjin, kakak kelas kami, yang mengubur perasaannya selama sepuluh tahun. Gadis yang ditaksirnya bahkan kudengar sudah melaksanakan pertunangan. Semoga Jinjin cepat punya penggantinya. Terkadang ia menjadi sedikit gila jika disinggung tentang gadisnya.

“Memangnya aku perlu apa?”

“Memangnya aku pernah menyatakan cinta?” ucap Rocky sewot. “Mana kutahu.”

Ya. Benar juga. Rocky mana pernah menyatakan cinta kalau dunianya dilingkupi dengan aktivitas bersama kelompok pecinta Voldemortnya.

“Tapi kudengar dari Eunwoo kalau ingin menyatakan cinta kita perlu coklat dan bunga. Perempuan suka hal seperti itu, katanya. Tapi, entahlah,” Rocky kembali bersuara.

Aku memikirkan ucapan Rocky. Coklat dan Bunga, ya. Bukan ide yang buruk.

“Kalau begitu antar aku membeli kedua benda itu.”

:::

Dengan penuh perjuangan, kami selesai membeli barang yang dibutuhkan. Aku tersenyum jenaka pada kantong yang sedang kupegang. Di sana ada sebatang coklat dan bunga mawar. Batang coklatnya dibungkus dalam sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita emas di atasnya. Untuk bunganya aku memilih sekuntum saja. Uang bulananku sedang tipis. Meminjam pada Rocky pun sama saja. Ia tidak pernah punya uang. Seringnya minta ditraktir olehku.

Dengan langkah senang dan jantung yang berdetak lebih cepat, aku diam di depan rumah Eunbi. Rocky memilih menyaksikan di halaman rumahnya. Sebelumnya ia menepuk pundakku untuk memberikan semangat. Aku menoleh ke belakang, dimana Rocky berada. Temanku itu langsung mengacungkan kedua ibu jarinya, memberi semangat, kurasa.

Aku baru saja akan menekan bel rumah Eunbi saat pintu utama rumah tersebut terbuka. Buru-buru aku bersembunyi di salah satu dinding samping pagar. Eunbi keluar dengan seorang lelaki tinggi yang menampilkan punggungnya. Begitu laki-laki itu berbalik, aku bisa melihat wajahnya. Itu Kim Mingyu. Kapten basket sekolah. Sedang apa laki-laki itu di rumah Eunbi?

“Mingyu terima kasih sudah mampir. Dan … terima kasih juga untuk cincinnya,” ucap Eunbi malu-malu.

Dari tempatku berada, aku bisa melihat Mingyu tersenyum sebagai balasan dari ucapan Eunbi. Kemudian…

“Tentu saja. Sama-sama, sayang.”

Sayang. Wah. Aku terlambat. Sepertinya Eunbi sudah menjadi milik orang lain sekarang. Miris sekali. Aku bahkan sudah gagal sebelum menyatakan perasaan. Dengan langkah gontai dan terburu-buru aku kembali ke rumah Rocky.

Aku kembali ke rumah Rocky dengan kepala ditekuk. Rocky yang melihat dari kejauhan justru tertawa terbahak-bahak. Ditambah dengan tepuk tangan, bahkan. Bukannya prihatin.

“Diam, Rocky,” ucapku begitu sampai di tempat Rocky berada, lalu duduk di kursi sebelahnya. Meja yang tadi terisi oleh kudapan dan jus jeruk sudah diganti dengan jus lemon.

“Aku diam sejak tadi. Hanya sedikit tertawa.”

“Ya. Sedikit. Terima kasih banyak apresiasinya.”

“Sama-sama.”

Aku melempar asal kantong yang berisi coklat dan bunga lalu bersandar dengan mata terpejam.

“Sudahlah, Bin. Masih ada banyak perempuan di luar sana yang menanti pernyataan cintamu,” ucap Rocky kemudian.

Aku membuka mata. Memang masih banyak perempuan di luar sana. Tapi, untuk menumbuhkan cinta itu tidak mudah. Mungkin aku harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Kalau dunia berakhir dan aku belum pernah merasakan punya pacar, apa kata dunia?

Berikutnya aku mengembuskan napas kasar. “Jadi, apa yang ingin kau realisasikan Rocky?” ucapku sambil mengambil jus lemon di atas meja. Mencoba mengalihkan perbincangan, sejujurnya.

Rocky tidak menjawab. Dengan hati yang masih bersungut-sungut karena kesal, aku meminum jus lemon sampai tandas dalam sekali tegukan.

Begitu aku menoleh ke arah Rocky, laki-laki itu menampilkan seringaian di wajahnya. Aku mengerutkan dahi. Itu bukan Rocky sekali.

“Aku ingin …”

“Ingin a-AAAA!” aku berteriak. Ada sesuatu yang mencekik di tenggorokan lalu merambat ke jantungku yang seperti mau pecah.

Rocky yang berada di samping kini sudah berada di hadapanku. Wajahnya gelap karena matahari kini sudah tak menampilkan sinarnya. Ia kemudian berjongkok dengan wajah yang menampilkan seringaian.

“Kau bertanya apa yang ingin kurealisasikan, kan?” jeda beberapa detik. Kemudian ia berjalan kembali menuju kursinya dengan bibir yang melengkung ke atas. Ujung kedua bibirnya hampir menyentuh mata. Itu bukan senyuman Rocky yang biasanya. Aku kemudian membungkuk di tempat dengan tangan yang meremas dada sebelah kiri saat Rocky kembali bersuara,

“Yang ingin kurealisasikan adalah menaburkan racun pada minuman seseorang dan melihat hasilnya. Terima kasih sudah membantu, Kawan.”

FIN.

Tob disini. Salam kenal dan mohon bantuannya ^^

Advertisements

Author:

98liner.

3 thoughts on “[2nd OPREC] Our Wish – Ficlet

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s