Posted in Astro Fanfiction Indonesia, AU, Event, Fantasy, Ficlet, Friendship, PG-15, Slice of Life

[2nd OPREC] Two Hundred Summers and Still Counting – Ficlet

two hundred summers and still counting

Author namtaegenic Casts ASTRO Genre Friendship, fantasy Length Ficlet Rating PG-15 Disclaimer I own the plot

Summary: Mereka biasa menghabiskan waktu luang bersama. Suatu sore, satu di antara mereka berkata, “Bagaimana jika ini adalah musim panas terakhir kita? Apa yang akan kaulakukan?”

© 2016 namtaegenic

:::

Park Minhyuk bilang ia sedang di Rusia, di hutan terluas di dunia—oh, Minhyuk adalah tukang pamer sejati tiap kali orang-orang membicarakan jam terbangnya yang tinggi. Baru-baru ini ia memperbarui sayapnya dengan yang lebih canggih dan membuat peri-peri lain iri setengah mampus. Sayap barunya—kata Minhyuk, lagi-lagi pamer—dilengkapi dengan sensor penghalang dan rem otomatis yang bekerja hanya dengan naluri perinya, sehingga secepat apa pun ia terbang, tak akan ada berita di Fairy News yang memaparkan bahwa ia pingsan gara-gara menabrak pohon pinus. Tidak termasuk risiko bahwa ia akan tertangkap basah oleh penduduk setempat yang takjub pada fakta bahwa ia adalah peri.

Melupakan Minhyuk dan sayap peri mutakhirnya, Sanha memanjat ke pagar kayu pembatas antara rumah penduduk dan petak-petak kebun yang membentang. Rasanya sudah ratusan tahun sejak ia meninggalkan Jeju dan menetap di London, menjadi penerjemah magang di pagi dan siang hari, dan jadi guru privat untuk anak SD di daerah pecinan tidak jauh dari apartemennya di Acacia Hill. Sanha selalu memulai hari dengan berharap bahwa tidak ada tetangga dan muridnya yang curiga, karena kadang-kadang lidahnya masih betah merapal mantera—kebiasaan. Baiklah, cukup mengenai Sanha.

Berencana kembali ke kampung halaman pada musim panas ini, Sanha menghubungi beberapa sahabatnya yang kini sudah berpencar ke seluruh penjuru dunia—dengar-dengar Myungjun malah pesiar ke Venus, meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang memercayai bahwa peri bisa hidup dengan menghidu udara yang 96%-nya karbon dioksida.

Seminggu yang lalu, Sanha iseng-iseng membuka Portal Supernatural—ia menyihir dinding wastafel kamar mandinya agar beralih fungsi menjadi semacam layar penghubung pada teman-temannya. Ia bisa melakukannya di jendela apartemen, tapi Sanha tidak mau menanggung risiko membuat tetangga satu gedungnya kabur dan ia berujung dengan diarak ke kantor polisi ditambah tuduhan mempraktikkan ilmu hitam.

Wajah Eunwoo adalah yang pertama tersenyum menyapanya. Katanya, ia sedang berada di acara lelang amal dan menyepikan diri untuk berkomunikasi lewat portal. Mereka saling menyapa, dan temu kangen tersebut akhirnya dilengkapi dengan Moonbin yang menyapa dari Afrika (“Hutan di Afrika benar-benar keren, lho!” begitu katanya), Myungjun yang sedang berada tak jauh dari barisan pelatihan kungfu (“Ni hao!” serunya, lalu membalas panggilan pelatihnya dengan bahasa mandarin yang sangat lancar),  Jinjin yang melambai dari beberapa meter kedalaman laut California, dan Minhyuk yang muncul dengan membelakangi kelimanya—seluruh dunia harus lihat penampakan sayap baru yang fenomenal itu. Lalu sebuah ide tercetus di benak Sanha—mereka harus reuni. Harus.

Maka di sinilah Sanha berada, di Jeju, di desa yang dulu mereka tinggali dan pagar kayu berpemandangan perkebunan. Tak perlu kode dan informasi tertentu agar mereka datang ke sini. Mereka tahu di mana harus berkumpul. Sanha sudah mengingatkan kelimanya agar menyembunyikan sayap peri mereka (terutama Minhyuk) seperti yang sejak sekolah dasar selalu berhasil mereka lakukan (kecuali Minhyuk—tapi toh semua peri punya sihir amnesia lokal, jadi mereka aman).

Bahu Sanha ditepuk dari belakang.

“Masih suka merapal mantera awet muda setahun sekali?” Eunwoo tertawa ketika Sanha balas menepuk bahunya dan mereka bersalaman ala remaja lelaki masa kini (yang paling mereka sukai, karena berpuluh tahun yang lalu, semua orang hanya memberikan salam tanpa gerakan-gerakan keren).

A-yo, Sanha my man, what’s up!” Jinjin muncul dari sisi kiri. Sanha mengulang high five khas anak zaman sekarang sebanyak lima kali ketika semuanya mulai bermunculan—Minhyuk muncul terakhir, ia suka menjadi pusat perhatian.

“Desa ini tidak berubah,” kaki Moonbin naik ke salah satu pijakan pagar kayu, dan ia menghirup udara segar. “Aku rindu Jeju.”

“Aku rindu kalian,” sambung Jinjin.

“Kalian rindu aku,” Minhyuk menyudahi. Semuanya tertawa. Matahari musim panas bersinar lembut tanpa terik sama sekali. Menikmati musim panas di sore hari selalu menjadi bagian dari Myungjun, Jinjin, Eunwoo, Minhyuk, Moonbin, dan Sanha. Mereka mungkin sudah melewati dua ratus musim panas sejauh ini. Atau mungkin lebih, sebelum mulai berpisah untuk menjalani hidup masing-masing.

“Tahu tidak, aku selalu berangan-angan bahwa aku bisa hidup selamanya, dan bertemu musim panas lagi dan lagi,” ujar Eunwoo tanpa beralih pandang dari petak sawah di seberang. “Sayang sekali, selamanya itu tidak ada.”

“Dua ratus musim panas, man,” Jinjin mengekeh. “Dua ratus musim panas dipotong beberapa tahun perpisahan, dan kita kembali ke sini, masih menikmati musim panas di udara yang sama.”

“Aku tahu,” Eunwoo mengangguk-angguk. “Aku tahu.”

“Jika ini musim panas terakhir kita,” tiba-tiba Myungjun membuka mulut. “Apa yang akan kalian lakukan?”

Sejenak tidak ada yang menjawab. Itu pertanyaan yang menyedihkan sekaligus menyebalkan. Lantas, Myungjun mengawali jawaban atas pertanyaannya sendiri. “Aku mungkin akan mengeluarkan sayapku dan menunjukkan pada dunia, bahwa kaum peri itu ada.”

“Cari mati,” Minhyuk terbahak. Tapi ia menyetujui. “Aku juga akan seperti itu jika besoknya aku harus mati.”

Sanha menggerutu, merasa tidak nyaman. “Aku akan hidup sampai satu atau dua milenium lagi, kalau-kalau kalian mau tahu.”

“Penyihir bisa hidup selama itu, Sanha. Tapi peri tidak,” Eunwoo berujar. “Kami hanya awet muda. Tapi hidup selama kaummu? Kurasa tidak.”

Sanha berdecak. Pertemuan ini tidak seharusnya diisi dengan topik memento mori. Terutama kalau memang ini adalah musim panas terakhir mereka.

“Aku akan menikah dengan manusia, lalu di tengah acara makan, kukeluarkan sayapku untuk mengagetkan mertuaku,” ucapan Minhyuk mengundang tawa.

“Aku akan makan piza sebanyak yang kuinginkan!” Moonbin menambahkan.

“Aku akan ke Venus untuk membuktikan bahwa Myungjun tidak pernah ke Venus,” imbuh Jinjin makin memperkeras gelak tawa, sementara Myungjun berusaha menjambak helai pirang di kepala sahabatnya tersebut. Akhirnya, Sanha tertawa juga. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika ini adalah musim panas terakhir mereka.

“Apakah kalian tahu kapan tepatnya kalian mati?” pertanyaan Sanha meredakan tawa. Myungjun, Jinjin, Eunwoo, Moonbin, dan Minhyuk saling pandang. Lantas kelimanya mengangkat bahu.

Deretan gigi rapi Sanha bermunculan kala ia tersenyum lebar. “Jadi, kita masih punya banyak waktu, kan?”

Mereka mengangkat bahu lagi. Kemudian Sanha—satu-satunya penyihir di antara mereka—melontarkan beberapa patah kata yang barangkali akan mereka ingat seumur hidup.

“Kalau ini adalah musim panas terakhir kita. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku akan menerimanya.” Sanha menatap teman-temannya satu per satu. “Selamanya itu relatif. Tapi kematian itu pasti. Dan jika kematian itu adalah pasti, maka semua musim panas ini,” Sanha tersenyum, “adalah selamanya.”

FIN.

Halo, saya Eci, author baru di sini. Mohon bantuannya.

 

Advertisements

5 thoughts on “[2nd OPREC] Two Hundred Summers and Still Counting – Ficlet

    1. halo, daisy! hehe iya ini genrenya friendship tapi cuma di antara mereka aja, jadinya aku ngga menyertakan cewe untuk menghindari baper (penulisnya juga baper nanti). makasih daisy sudah mampir ^^

      Like

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s