Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Comedy, Drabble, Fluff, General, Romance, Teenager

[Drabble Mix] Dying Trying Dating

poster copy

Tiarachikmamu proudly presents

.

A Drabble Mix starring by Kim Myungjun [ASTRO’s] and Moon Chaejin [OC]
Drabble ±200 words | Romance, Fluff, Comedy
General, Teen

.

.

.

[1—Pelepas Suntuk]

Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, kali ini promo beli lima gratis satu yang tertempel di rak mi instan tak lantas membuat Myungjun tertarik. Laki-laki itu malah menghela napas, meletakkan keranjang belanjanya di lantai, tampak enggan memilah stok mi instan—makanan wajib anak kosan—yang sudah kandas dari lemarinya sejak dua hari lalu.

Pengeluarannya untuk proyek film pendek dan penjilidan paper sudah cukup membuat rambutnya mengembang berantakan tak terawat. Tidak perlu ditambah tugas tetek-bengek lainnya, Myungjun sudah pening duluan. Lihat saja kantung matanya. Ia mirip panda yang kabur dari karantina.

“Ah, aku bahkan tidak nafsu makan.” Myungjun menghela napas, menggaruk kepalanya.

Detik berikutnya setelah memalingkan muka, Myungjun menemukan sesuatu yang membuat senyumnya mendadak merekah.

Bukan sesuatu, sih. Tepatnya…seseorang.

.

[2—Halo]

“Halo, Nuna-nya Bin.”

Di antara dua kotak sereal yang ditimang sang gadis, Myungjun menyembul dengan senyum lebar.

“Kau!” Sang gadis sampai mundur selangkah. Jantungnya nyaris copot. Matanya melotot, siap menghujani Myungjun dengan sumpah serapah.

“Wah, kita bertemu lagi. Nuna tidak punya sesuatu untuk dikatakan? Permintaan maaf mungkin?”

Sang gadis tersenyum kecut. Teringat insiden cekik-mencekik pada pertemuan mereka yang pertama. Ugh, memalukan.

“Sialan kau, Myungjun,” umpat sang gadis pelan.

“Aaah,” Myungjun mendadak memegang sebelah dadanya, berakting seolah-olah sesuatu yang tajam baru saja dihujamkan ke jantungnya. “Hatiku sakit mendengarnya, Nuna. Aaah, Nuna, selamatkan Myungjun yang baik hati ini, Nuna. Selamatkan…uhuk uhuk,” lanjut Myungjun dengan penuh penekanan pada tiap kata ‘Nuna‘ yang diucapkannya.

“Diam atau kucekik lagi kau, Myungjun sialan!”

Sang gadis boleh jadi kesal. Tapi Myungjun tidak. Ia tidak masalah soal insiden cekik-mencekik itu. Ia malah senang. Menggoda gadis temperamen macam Chaejin itu, menyenangkan.

.

[3—Harga Sebuah Maaf]

“Maaf,” ucap Chaejin buru-buru memalingkan muka.

“Begitukah caramu meminta maaf?” tanya Myungjun pura-pura kesal. ”Setelah membuat nyawa seseorang nyaris melayang, begitukah caramu meminta maaf?”

Chaejin menghela napas. Kesabarannya sungguh sudah di ambang batas. Tapi untuk meladeni pria kurang kerjaan yang—tampaknya—gemar cari masalah macam Myungjun, ia harus pandai-pandai mengambil kangkah. Salah-salah, ia hanya akan jadi korban pemerasan. Diminta ganti rugi misalnya?

“Permintaan maaf macam apa yang kau harapkan, Myungjun-ssi?”

Demi nasib baik uang jajan bulanannya yang susah payah ditabung untuk membeli face mask dan lipbalm, Chaejin sampai repot-repot menambahkan ‘ssi’ pada kalimatnya.

Myungjun sempat terkejut melihat respon tenang Chaejin. Nanosekon berikutnya, ia malah tersenyum lebar.

Tebakannya, ia akan menang.

.

[4—Modus]

“Enak saja!” Chaejin menyentak kesal. “Tidak mau!”

Persis seperti yang Myungjun duga, Chaejin akan mencak-mencak begitu ia minta ganti rugi.

“Kalau begitu kuanggap kau berhutang,” balas Myungjun enteng.

Chaejin mendelik.

“Dasar matre!”

“Dasar tidak bertanggung ja—“

“Aku juga tidak punya uang untuk kuhambur-hamburkan, Myungjun sialan!”

Kali ini, Chaejin memilih segera mengangkat keranjang belanjanya, memilih pergi daripada meladeni pria macam Myungjun yang membuat mulutnya kumur-kumur menahan sumpah serapah. Wajahnya bisa makin tua kalau berlama-lama berdebat dengan Myungjun.

Ya! Ya! Nuna-nya Bin!” Mengabaikan keranjang belanjanya sendiri, Myungjun buru-buru mengejar, menghadang dengan kaki terbuka dan tangan terentang lebar.

“Sepuluh bungkus ramen saja. Janji!”

Chaejin hanya menghela napas, memilih minggir.

“Tujuh! Tujuh bungkus ramen!”

Chaejin minggir sekali lagi, dan dihadang sekali lagi.

“Lima bungkus ramen!”

Belum sempat mengambil langkah, Myungjun mendesak sekali lagi,

“Lima bungkus ramen atau ID Line!”

Sedang Chaejin memicingkan mata, Myungjun malah tersenyum lebar.

Duh, iya kalau tampan.

.

[5—Pertemuan Kedua]

“Hehe. Hehe.”

Myungjun cengengas-cengenges, sedang gadis yang baru saja duduk di hadapannya itu mati-matian mengatur napas demi tak menghujani Myungjun dengan berbagai umpatan.

“Katakan dari mana kau dapat ID Line-ku.”

“Aku, kan—”

“Myungjun,“ Chaejin memperingatkan—awas kalau kau main-main!

“Nuna, maksudku, Chaejin—“

“Myung—“

“Aku bisa menjelaskan!”

BRAK!

“Myungjun!” Chaejin mengacak rambutnya. “Aku, kan, sudah memberimu lima bungkus—“

Ya!” Myungjun menatap Chaejin kesal. “Benar! Kau memang memberiku lima bungkus ramen!”

“Lalu kenapa—“

“Tapi akan kadaluwarsa dalam tiga hari ini! Aish!” Myungjun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tidakkah kau pikir itu keterlaluan?”

Chaejin hanya memasang wajah masam.

“Yang penting, kan, aku sudah memberi lima bungkus ramen.” cibir gadis itu seraya memajukan bibirnya.

Myungjun hanya bisa menghela napas, menatap sebal—antara gemas melihat tingkah Chaejin dan kesal karena lima bungkus ramennya tidak akan bisa dihemat-hemat sampai akhir bulan.

Untung aku naksir kamu, Jin.

.

.

.

Author’s cuap :

Tjiyeee akhirnya kambek tjiyeee

Ada yang kangen gak? Gaada ya?

Maapin ini MyungJin endingnya nanggung XD

Enaknya mereka dating apa enggak? Atau biarin bang MJ jadi mzmz genit? XD /dikeplak Aroha/

.

Tiarachikmamu

Advertisements

Author:

Legal Absurd Alien

Tagged:

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s