Posted in Astro Fanfiction Indonesia, Ficlet, Fluff, PG, Romance, School Life

[Ficlet] Every End of Day

1461462176041.jpg

Every End of Day

by tyavi

|Chaengwoo|

[Astro] Eunwoo and [Twice] Chaeyoung

Romance, Fluff, School life | Ficlet | PG

Summary :

“Ini hari minggu, ayo keluar cari udara segar.”

.

.

.

“Chaeyoung.”

“Mmmm…”

“Son Chaeyoung.”

Gadis mungil bersurai pendek itu berkemam lagi. Perlahan-lahan kelopak mata indahnya mulai terbuka. Mengerjap sejenak, membiarkan pupilnya menyesuaikan cahaya yang masuk. Hingga akhirnya ia dapat membuka mata dengan sempurna, terbiaslah paras rupawan seorang pemuda tepat di depan hidungnya. Bayangan yang kalau digabung dengan informasi yang tersimpan di otak, orang itu adalah Cha Eunwoo.

“K-ketua?”

“Hm?”

Kontan Chaeyoung mengangkat kepala dari atas meja. Gerakan yang lantas membuat jarak wajahnya dan Eunwoo berada di batas yang aman (menurutnya). “Ketua, sedang apa di sini?”

“Memperhatikanmu.”

 “Heh???” Chaeyoung tidak peduli kalau ia dikatakan tidak bisa mengontrol ekspresi terkejutnya—yang, oh, pasti jelek sekali—karena yang terpenting dalam situasi ini adalah kata yang baru saja keluar dari Eunwoo. Oh, apa benar telinga Chaeyoung tidak masih ngantuk?

Mulut Chaeyoung terbuka. Hendak bersuara tapi ia tidak tahu harus merespon apa.

“Kau tidur seperti bayi.”

 “Ha…Ke…ap…yang…” Chaeyoung mendadak jadi gagu. Dan Cha Eunwoo malah tergelak, menganggap Chaeyoung lucu.

Tuh, kan. Sekarang Chaeyoung malah kepingin pingsan. Tidak tahukah Cha Eunwoo kalau ia jadi semakin tampan?

“Sepertinya kau kekurangan oksigen, Nona Wakil.” Detik selanjutnya Eunwoo mengamit tangan Chaeyoung. “Ini hari minggu, ayo keluar cari udara segar.” Dalam sekali tarikan, Eunwoo dapat membuat tubuh mungil Chaeyoung bangkit dari kursinya.

“T-tunggu, Ketua…laporannya bagaimana?” Chaeyoung menahan tarikan Eunwoo yang sedang semangat-semangatnya, lantas melirik ke arah tumpukan kertas di atas meja kerjanya. Objek yang menyebabkan ia berada di ruang Student Council sekolah pada akhir pekan.

Eunwoo tersenyum maklum dan mengusap puncak kepala Chaeyoung. “Kita bisa kerjakan nanti, kau pasti sangat lelah—sampai tertidur begitu. Jadi sekarang waktunya kita refreshing!”

::

Chaeyoung kira yang Eunwoo maksud dengan ‘refreshing’ adalah dengan pergi ke kafe dan memesan secangkir espresso. Tapi tempat ia berpijak bersama Eunwoo saat ini adalah sebuah cake shop (tolong digaris bawahi). Chaeyoung menggoyang tautan jemari mereka.

“Ketua, tidak salah nih kita ke sini?” ujarnya heran. Karena seingat Chaeyoung, seorang Cha Eunwoo itu tidak terlalu suka makanan manis. Lihat saja dari minuman favoritnya yang merupakan kopi hitam tanpa gula.

“Ketua, di sini pasti tidak ada kopi pahit,” Chaeyoung mengingatkan. Menggoyang lagi tautan tangan mereka dan berpolah seperti berbisik. Ia harus memperingatkan Eunwoo untuk mengganti tempat kencan (bisakah disebut begitu?) mereka. “Di sini hanya menyediakan kue.”

“Tapi kau suka ‘kan?” Iya sih, Chaeyoung memang suka makanan manis. Ia justru benci minuman pahit yang disukai Eunwoo itu. Eh, tunggu sebentar…

::

Terakhir kali Chaeyoung merasa akhir pekannya begitu menyenangkan adalah saat ia dan Dahyun pergi ke taman bermain dan menikmati permen kapas berwarna pink yang super lembut, dan perlu ia ingat-ingat kembali kalau itu adalah setahun yang lalu. Jauh sebelum Chaeyoung masuk Hagnon dan menyandang status Wakil Ketua Student Council.

Tapi hari ini, hari minggu yang ia lalui bersama Cha Eunwoo—tersangka yang telah merenggut akhir pekannya belakangan ini—terasa sangat menyenangkan. Menggeser rasa senangnya bersama Dahyun deh (Maafkan Chaeyoung, Kim Dahyun). Ia makan strawberry soft cake bersama Eunwoo. Berjalan-jalan di festival musim panas bersama Eunwoo. Dan finalnya ia makan permen kapas bersama Eunwoo. Ditambah bunga, mungkin mereka akan benar-benar terlihat seperti pasangan yang sedang berkencan. Aih.

Selain hari minggu yang paling berkesan, ini juga kali pertama ia menghabiskan akhir pekan bersama Eunwoo di luar ruangan. Yeah, sejujurnya Chaeyoung sudah sering menghabiskan hari minggu bersama Eunwoo tapi itu karena mereka harus mengerjakan laporan jika sudah mendekati deadline. Meski tidak semenarik saat ini, tapi dusta kalau Chaeyoung bilang ia tidak suka. Cha Eunwoo, Chaeyoung suka menghabiskan waktu bersamanya (kecuali saat Eunwoo marah-marah karena dan mengatainya lelet mengerjakan laporannya).

Chaeyoung menutup matanya saat angin laut menerpa wajah mulusnya. Menerbangkan surai cokelanya dan berbisik di telinganya. Sebagai penutup hari menyenangkan ini, Eunwoo mengajaknya ke dermaga. Katanya sangat mententramkan melihat pemandangan dan merasakan hembusan angin di sana. Eunwoo memang tidak berbohong perihal ‘mencari udara segar’.

Berada di atmosfir menenangkan ini terkadang memicu nostalgia. Benak Chaeyoung kini melayang ke enam bulan lalu, saat ia masih baru-barunya masuk Hagnon, dan baru-barunya pula dipilih jadi Wakil Ketua. Tanpa sadar, sudah setengah tahun ia habiskan bersama pemuda jangkung berotak encer ini. Sudah setengah tahun pula mereka melalui suka duka. Dan Chaeyoung yang awalnya sangat kesal harus menjadi Wakil Ketua, diam-diam mulai menikmati tugasnya. Meski di awal intensitas marah-marah Eunwoo luar biasa sering, namun kini mulai berkurang karena kinerja Chaeyoung yang semakin membaik. Kemajuan yang mau-tidak mau harus Chaeyou syukuri. Dan tak hanya kemampuan Chaeyoung yang berubah, impresinya terhadap pemuda itu juga. Atau mungkin Chaeyoung bisa bilang mulai ada rasa di hatinya? Dan sekarang Eunwoo memperlakukannya sedemikian rupa (perlu diingatkan lagi kalau tangan mereka masih tertaut). Bolehkah Chaeyoung berharap?

“Um, Ketua.” Suara Chaeyoung membuat Eunwoo mengalihkan perhatiannya. Surainya sedikit berantakan akibat angin, matanya sedikit menyipit karena cahaya matahari di ufuk barat, dan Chaeyoung membasahkan bibirnya lamat. “Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu setiap hari berakhir.”

“Aku bersyukur karena telah menjadi Wakil-mu.”

“Aku juga bersyukur.” Eunwoo tersenyum hangat. “Karena kau selalu ada di sisiku.”

“Ketua, apa kau sakit?” heran Chaeyoung seraya punggung tangannya mampir di dahi Eunwoo. Alih-alih menjawab, Eunwoo meraih tangan Chaeyoung dan menggenggamnya erat. Buat Chaeyoung meneguk ludah gugup saat kemudian tangannya dibawa ke depan mulut Eunwoo. Pemuda Cha itu mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana. “Berhenti memanggilku ‘Ketua’, Chaeyoung-a.”

Dan kali ini bibir Chaeyoung yang mendapat kecupan.

.

.

.

Chaeyoung membelalak, dan Eunwoo tersedak.

 “K-ketua?” Manik gadis Son itu membulat mendapati Eunwoo di hadapannya. Pemuda itu berdeham beberapa kali seperti orang sakit tenggorokkan, masih belum beranjak dari posisinya bertopang dagu di meja Chaeyoung.

“Akhirnya bangun juga.”

“Ketua, sedang apa—“

“Kau itu tidur seperti orang mati, tahu.”

“Hah?”

“Bagaimana dengan laporannya? Sudah selesai? Atau malah basah kena liurmu?”

Beri waktu untuk serebrum Chaeyoung—yang tidak seencer Eunwoo—ini untuk mencerna pada situasi apa dirinya saat ini. Di ruang Student Council. Tertidur di meja kerjanya. Bersama Eunwoo yang kini melihat sinis ke arahnya. Jangan bilang kalau yang sebelumnya itu hanya…

“Ingat Nona Wakil, deadline-nya besok senin. Kalau kau tidur terus, terpaksa kita lembur hari ini.”

.

…mimpi?

.

fin

.

tyavi’s little note: Finally tyavi kambek dengan kopel kesayangan :3

Advertisements

Author:

Jung Hamji | 97Line | RNA

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s