Posted in Astro Fanfiction Indonesia, AU, Drama, Ficlet, Friendship, Genre, Length, PG-15, School Life, Slice of Life

[Ficlet] Mr. Perfect?

tumblr_o0xu6bEsuI1uz8stio1_500

Mr. Perfect? by Mingi Kumiko

♣ Yoon San Ha & OC ♣ friendship, AU, school life ♣ PG-15 ♣ Ficlet ♣

“Akhirnya terkuak sudah sisi gelap seorang Yoon San Ha!”

.

.

Mio selalu percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Sang Maha Kuasa. Sehebat apapun seseorang, pasti ada suatu celah yang membuat mereka lemah, begitulah prinsip yang selama ini ia yakini. Suatu ketika, kelas mereka kedatangan murid pindahan dari Chungju bernama Yoon San Ha. Baru beberapa minggu sejak ia berstatus sebagai siswa SMA Kyungho, Sanha langsung mendapatkan popularitas karena ketampanan dan kepintaran yang ia miliki.

“Sudah ganteng, pintar, baik hati pula! Ia mengajariku matematika tadi pagi.” kata salah seorang gadis dengan antusias saat segerombolan murid perempuan tengah membentuk grup gosip di tengah jam istirahat.

“Kemarin aku juga melihatnya bermain basket bersama anak kelas sebelah, dia keren sekali saat mencetak three point!” timpal kawan di sebelahnya.

“Ya ampun, dia sempurna… benar-benar memenuhi seluruh klasifikasi pria idamanku!”

Murid paling tak acuh di kelas – siapa lagi kalau bukan Mio – merasa kupingnya sudah memerah karena terlalu muak mendengar seisi kelas terus mengelu-elukan kepribadian seorang Yoon San Ha. Apa tidak ada topik lain yang bisa mereka bahas selain pria berwajah barbie itu?

Guru kesastraan pun memasuki kelas tepat setelah bel masuk berbunyi dan membuat para murid segera duduk dengan tertib. Hyejung Ssaem – nama guru tersebut – tak mengisi jam pelajaran dengan penuh karena ada rapat mendadak antar guru. Jadi beliau hanya menjelaskan materi sekenanya dan menyuruh para murid mengerjakan tugas yang ia berikan secara berkelompok.

Seisi kelas segera beringsut dari bangkunya untuk mencari teman satu kelompok. “Dahyun-a, sudah punya kelompok?” tanya Mio pada teman yang menduduki bangku di belakangnya. “Sudah, aku satu kelompok dengan Yein.” jawab yang ditanya. Mio pun lantas berbalik dan menekuk wajahnya. Kenapa juga, sih, Hyejung Ssaem hanya mengizinkan satu kelompok beranggotakan dua orang? Dia, kan, tidak punya sahabat akrab di kelas. Bukan berarti juga ia menutup diri, hanya saja ia lebih memilih membaur dengan semua murid di kelas tanpa memberatsebelahkan dirinya ke satu orang saja.

“Mau satu kelompok denganku, tidak?” sebuah suara berembus menyapa telinganya. Mio yakin sekali kalau suara itu ditujukan padanya. Ia pun lantas memutar kepala untuk mencari sumber suara. Dan seketika pupil gadis itu membulat saat mendapati bahwa pria jangkung bersurai kecoklatan – siapa lagi kalau bukan Yoon San Ha – yang barusan mengajaknya bicara.

“Kau bicara denganku?” Mio melongo mendapati Sanha yang sedang memfokuskan tatap padanya. Ia pun celingukan dengan kikuknya untuk memastikan bahwa yang barusan diajak bicara adalah benar dirinya. Seorang Yoon San Ha – yang notabenenya adalah murid yang tak pernah ia ajak bicara – mengajaknya bekerja kelompok?

“Tentu saja…, kau belum punya kelompok, ‘kan?”

Eum, belum.”

“Kita akan jadi rekan satu kelompok, setuju?” Sanha mengulurkan tangannya. Pikiran Mio mendadak kosong, dan ia tak tahu setan apa yang merasukinya hingga balik mengulurkan tangan dan saling berjabat dengan Sanha.

Mungkin satu kelompok dengan lelaki yang dijuluki Si Tuan Sempurna itu bukanlah hal buruk, sebenarnya ia juga sedikit kesulitan memahami materi yang baru saja dijelaskan Hyejung Ssaem. Dan mungkin dengan kepandaiannya, Sanha bisa membuat kerja kelompok mereka jadi lebih ringan.

.

.

Karena guru kesastraan yang hanya memberikan waktu 2 hari dalam proses pengerjaan, jadinya Sanha dan Mio buru-buru merencanakan jadwal mereka mengerjakan tugas. Atas rekomendasi Sanha, mereka pun memilih sebuah kafe di kawasan Shinrimdong sebagai tempat mereka mengerjakan tugas.

“Sudah lama menunggu?” celetuk seseorang menggugah lamunan Mio yang tengah terpaku menatap jalanan lengang dari balik jendela.

“Aku baru saja sampai sekitar 10 menit yang lalu.”

“Baru sepuluh menit dan kau sudah menghabiskan secangkir espresso latte?” goda pria berbalut jaket denim itu saat maniknya tak sengaja melihat sebuah cangkir kosong di hadapan Mio.

“Itu tidak ada hubungannya denganmu.” balas Mio tak acuh.

Sanha pun mengambil posisi duduk santai di depan Mio. Setelah itu ia sedikit melakukan gerakan untuk merogoh saku pada skiny jeans yang ia kenakan.

“Kita jadi mengerjakan tugasnya, ‘kan?” tanya Mio.

“Sebentar, sepertinya aku lupa membawa korek.” Sanha pun berdiri dan meraba-raba celananya untuk memastikan bahwa barang yang ia butuhkan benar-benar tertinggal.

“Korek… untuk apa?” bingung Mio.

“Ah, sebentar, ya… aku akan ke kasir untuk meminjam korek sekaligus memesan sesuatu.” tandasnya dan langsung beranjak dari kursinya.

Tak lama setelah itu Sanha pun kembali sambil membawa nampan berisi beberapa benda. Mio melongokkan kepalanya karena penasaran dengan isi nampan yang Sanha bawa. Terdapat sepotong roti isi kacang merah, segelas ice americano, dan tentu saja korek – mengingat untuk hal itulah ia menghampiri kasir.

“Kau belum jawab pertanyaanku, untuk apa korek itu?” tanya Mio penuh selidik. Sanha pun mengeluarkan sebuah benda berbentuk kotak dari saku jaketnya. “Tentu saja untuk ini.” celetuknya sambil mengeluarkan satu dari dua belas silinder yang menjadi isi dari kotak itu.

“Kau merokok?”

Mio kaget bukan kepalang, apa benar lelaki di hadapannya ini adalah Yoon San Ha yang terkenal baik hati dan pintar? Rasanya hampir tak mungkin kalau lelaki berpenampilan sepolos dia bisa memiliki sisi seliar ini.

“Memangnya tidak boleh? Toh, sudah bukan jam sekolah.”

“Ta, tapi… anak seusia kita tidak seharusnya merokok, Yoon San Ha!”

“Ah, menurutku wajar-wajar saja, kok! Apa kau terkejut? Seketika berpikir kalau aku anak nakal? Jujur saja…” kata Sanha sembari menyulut sebatang rokok yang sudah diapit bibirnya.

“Sebenarnya sedikit…”

“Aku benar-benar tak bisa menahannya. Jadwalku di Seoul sangat padat hingga aku tak memiliki waktu untuk bersantai. Kupikir dengan mengajakmu satu kelompok, setidaknya aku bisa punya kesempatan merokok. Karena setahuku kau tak banyak bicara dengan anak-anak di kelas, jadi sepertinya kau tak akan membicarakan sisi gelapku pada mereka.” papar Sanha seraya membiarkan gumpalan asap menguar melalui hidung dan mulutnya.

Tuh, kan, benar apa yang Mio bilang; di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Sang Maha Kuasa. Seorang Yoon San Ha boleh punya wajah tampan yang terkesan polos, selain itu dia juga dikenal baik hati dan pintar. Tapi lihat sekarang, sesempurna apapun dia, ternyata juga punya sisi buruk yang tak patut dilakukan oleh anak seusianya.

 

– end –

First, maafkan ya, dek San… karena noona telah menistakanmuuu >///<

Dan untuk readers, maafkan diriku apabila kalian enggak sreg sama cerita ini, dalam segala hal, deh… apapun itu. Minta kritik dan saran yang membangun ya, guys… terima kasih ^^ sampai jumpa di fanfict selanjutnya 🙂

Advertisements

Author:

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s