Posted in AFFI Freelance, AU, Fluff, General, School Life, Vignette

[AFFI Freelance] Cinta dan Rahasia – Vignette

photostudio_1458740708518

Cinta dan Rahasia

by Nathaniel Jung

ASTRO‘s Park Minhyuk, OC‘s Goo Yujin

AU, school-life, fluff

G

Vignette

This story is mine. Don’t be a plagiators. Be a good readers.

Jika diibaratkan berondong jagung, jantungnya sudah meletup-letup sedari tadi.

 

Minhyuk menyeret tungkainya enggan menuju halte. Walaupun ia sudah menghabiskan waktu satu jamnya di ruang tari dan sumringah saat berpamitan dengan teman-temannya tadi. Tapi nyatanya hal itu tak berbuah manis pada menit setelahnya.

Jadi begini, Minhyuk memang bersemangat sekali ke sekolah —tadi pagi. Tapi, saat di perempatan blok rumahnya ia bertemu dengan Chan. Mereka juga menyempatkan diri untuk saling bertegur sapa.

Chan yang baru keluar dari rumahnya pun memutuskan untuk mengajak Minhyuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Minhyuk tak merasa keberatan dengan ajakan Chan. Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat bersama.

“Chan, kenapa kau dari tadi tersenyum seperti itu? Tidak seperti biasanya, apa terjadi sesuatu?” hardik Minhyuk dengan wajah agak risih.

Chan mengangguk cepat. Poni depannya terayun lembut. “Tentu! Kau tahu Yujin ‘kan?”

“Tahu lah! Kan dia teman sekelasku.”

“Nah, hari ini rencananya aku mau menembaknya. Eh, tapi jangan bilang orang lain, ya. Ini rahasia kita berdua.”

Minhyuk berhenti di tempat. Fokusnya mengabur sudah entah ke mana. Chan sukses membuatnya terkena serangan jantung tiba-tiba. Seketika ia merasa perutnya melilit saat membayangkan bagaimana jadinya Chan menembak Yujin. Parahnya lagi jika Yujin menerimanya. Mau apalagi Minhyuk setelahnya?

Chan yang merasa keberadaan Minhyuk di sampingnya nihil, lantas menengok ke belakang. Mendapati Minhyuk dengan wajah sempurna melongo. “Min, kenapa kau malah berhenti? Ayo jalan!”

“Eo—eoh, ya. Ayo jalan.”

Minhyuk sudah bilang ‘kan kalau ia satu kelas dengan Yujin?

Masalahnya Yujin bukan hanya sekedar teman sekelas bagi Minhyuk. Jika kalian menyelami lebih dalam lagi pada sorot mata Minhyuk, kalian akan melihat bagaimana seorang laki-laki yang tengah dicumbu asmara.

Iya, seorang Park Minhyuk menyukai temannya sekelas yang bernama Goo Yujin.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui satu fakta itu. Hanya Minhyuk dan Tuhan yang tahu. Bahkan sahabat terdekatnya—Moonbin juga tak mengetahui barang secuil.

Sesampainya di halte, Minhyuk tak lantas duduk. Ia terdiam kala matanya menangkap siluet seorang gadis yang sedang duduk sendirian. Tangan gadis itu menggenggam sebatang coklat yang sudah habis beberapa bagian.

“Eoh—Minhyuk? Menunggu bus juga?”

Mendadak diri Minhyuk dikuasai gugup. Tertangkap basah sedang memerhatikan seseorang—apalagi seorang gadis bukanlah hal yang menurutnya keren. Buru-buru Minhyuk mendudukkan tubuhnya agak jauh dari gadis itu.

Walau sudah duduk pun dirinya belum bisa bernapas lega, lantaran gadis itu malah mendekatkan tubuhnya ke arah Minhyuk.

“Kenapa jauh sekali duduknya?”

“Eh—eh maaf, aku tak terbiasa berdekatan dengan perempuan.” balas Minhyuk. Tangannya sudah berkeringat dingin. Kakinya juga tak henti-hentinya bergerak resah.

“Benarkah?!”

Minhyuk mengangguk tanpa melihat ke arah gadis itu. “I—iya.”

“Eih, kau terlalu polos ternyata. Jangan-jangan, kau tak tahu nama teman-temanmu sekelas —yang perempuan?”

“Bukan begitu. Tentu saja aku tahu.”

“Lantas, siapa namaku?” gadis itu mendekatkan kepalanya pada wajah Minhyuk. Bukan main, wajah Minhyuk merona sempurna karena ulah gadis itu. Minhyuk menjauhkan sedikit kepalanya, takut jika ia pingsan di tempat dan menjatuhkan harga dirinya sendiri.

Minhyuk melirik sedikit ke arah gadis itu. Oh, sungguh kenapa wajah itu mampu membuat jantungnya berdebar lebih cepat, sih?

“Goo Yujin.”

“Wah! Kau tahu namaku ternyata.” teriak Yujin—gadis itu senang. Kelewat senang malah, sampai-sampai tangannya meraih pipi Minhyuk dan mencubitnya gemas.

Minhyuk semakin gelagapan meladeni tingkah Yujin yang tak baik bagi kesehatan jantungnya. Namun, Minhyuk juga tak berniat membuat Yujin melepaskan tangannya dari wajahnya.

Ia justru ikut tersenyum senang melihat wajah cantik Yujin dari dekat. Tak berselang lama, Yujin melepaskan tangannya. Meninggalkan bekas kemerahan yang semakin menjadi di wajah Minhyuk. Dan sedikit rasa tak rela dalam benak Minhyuk.

“Eoh—maafkan aku Minhyuk. Di pipimu jadi ada bekas kemerahan. Apa aku terlalu keras mencubitmu?” tanya Yujin khawatir.

“Tidak apa-apa, kok.” balas Minhyuk dengan tak lupa menampakkan senyum manisnya.

“Benar tidak apa-apa? Aku merasa tak enak padamu. Habisnya kau membuatku gemas, sih. Ada ya ternyata laki-laki sepertimu.”

Jika diibaratkan berondong jagung, jantungnya sudah meletup-letup sedari tadi. Minhyuk merasa kalau Yujin juga memerhatikannya. Yah, walaupun tak seintens seperti yang dilakukan Minhyuk.

“Aku punya coklat. Kau mau?”

Yujin menyodorkan satu kotak kecil coklat pada Minhyuk. Dengan senang hati Minhyuk menerimanya. Menggigitnya sedikit, lantas berujar sekedar untuk basa-basi.

“Mm, ini enak. Kau beli di mana?”

“Chan yang memberikannya tadi padaku.”

Mulut Minhyuk berhenti mengunyah manisnya coklat. Ingatan yang tadinya teralihkan, kembali mencuat ke permukaan. Perlahan tangan yang digunakannya memegang coklat kian menurun yang akhirnya jatuh pada pangkuannya.

“Tak perlu kujelaskan kau pasti sudah tahu.”

Memang…

“Chan bilang kalau ia ingin jadi pacarku.”

Kalau bisa, Minhyuk ingin menghentikan waktu barang semenit untuk melarikan diri. Ke mana pun asal tidak bertemu dengan Yujin. Sekali lagi, kalau bisa.

Minhyuk tidak menyalahkan Chan. Semua laki-laki di sekolah atau bahkan dunia berhak menginginkan Yujin sebagai kekasihnya. Yujin itu manis dengan gigi kelincinya. Yujin juga ramah dan baik hati. Walaupun bukan menjadi peringkat satu di kelas, tapi Yujin termasuk anak yang rajin. Ditambah suaranya yang merdu di kala bernyanyi dengan diiringi jemarinya yang memetik gitar. Wajar ‘kan kalau dia jadi idaman?

Jadi, Minhyuk walaupun juga menyukai Yujin. Tapi, ia juga sudah siap mental dan hati jika sewaktu-waktu ada hal yang kurang berkenan di hatinya datang.

Dan mungkin, ini saatnya.

“Kau pasti menerimanya.” gumam Minhyuk pelan. Tanpa berani menatap Yujin. Ia sudah pasrah jika memang Yujin menerima Chan sebagai kekasihnya. Ia sudah siap mental, jika berpapasan dengan mereka berdua nanti yang akan dielu-elukan oleh siswa angkatan mereka. Dan Minhyuk juga sudah siap hatinya remuk atau bahkan melebur menjadi satu dengan debu saat melihat keduanya bertukar adegan romansa dari drama picisan.

“Siapa bilang aku menerimanya?”

Refleks Minhyuk menoleh pada Yujin. Ia tak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya. Coklat yang sedari tadi digenggamnya harus rela terjatuh di lantai kotor halte. Bagaimana bi—mungkinkah?

“Jadi, kau menolaknya?!”

Yujin mengangguk santai menanggapinya.

Minhyuk bisa bernapas lega sekarang. Berarti kesempatan untuk mendapatkan Yujin masih terbuka lebar. Jika pepatah mengatakan kesempatan tak datang dua kali, berarti Minhyuk adalah salah satu manusia paling beruntung di dunia karena diberi kesempatan kedua.

“Kau tidak mau tahu alasannya?”

Dahi Minhyuk dibuat berkerut untuk yang kesekian kalinya. “Memang kenapa?”

Yujin kembali menghadap Minhyuk yang wajahnya sarat kebingungan. Tak lupa senyuman manis dengan dibubuhi gigi kelinci sebagai bingkainya pun turut diberikan kepada Minhyuk.

“Soalnya, aku sudah jatuh hati sama laki-laki yang sekali pun aku belum pernah melihatnya dekat dengan seorang gadis. Laki-laki yang diam-diam memerhatikanku. Yang bila berada dalam radius satu meter denganku, pipinya akan bersemu kemerahan.”

“Maksudmu, siapa?”

“Orang yang menjatuhkan coklat pemberianku beberapa menit yang lalu.”

“Aku?” suara Minhyuk kian melirih.

“Namanya Park Minhyuk, bukan ‘aku’.” ujar Yujin seraya tersenyum manis.

Bodohnya Minhyuk yang hanya bisa mersepon dengan ekspresi dungu. Membiarkan Yujin dengan lihainya menaruh sepotong coklat ke dalam celah mulut Minhyuk yang terbuka lebar. Dan tak lupa gadis itu membubuhkan sedikit kecupan manis di sudut bibir Minhyuk.

 

Oh, kurasa nyawa Minhyuk sudah melayang sekarang…

 

 

 

 

 

FIN

 

Notes:

1st ASTRO’s fanfiction langsung ambil Rocky. Sorry for typos, sorry juga kalau malah ceweknya yg nembak Rocky (╥_╥). Ngga tahu ah ini menurut kalian gimana >n<

Ditunggu review kalian ^^~!

Advertisements

Author:

Dedicated to Fantagio's rookie group, ASTRO and shared all imagine from awesome writers using Bahasa.

5 thoughts on “[AFFI Freelance] Cinta dan Rahasia – Vignette

  1. aaaaaaahhhahahahaaaaa apa ini AAAAAAAAAA BISA GILA DEH AKU /lebay bgt d/
    beneran ya ini rocky ajhsgdvcndgdhjdbdjkb. suka bgt sama fanfic rocky manapun dan di tambah sama yang ini wkahdghbdjdvcud. kutunggu fic rocky selanjutnya yaaaa

    Like

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s