Posted in Ficlet, Fluff, Teenager

[Ficlet] A Crime

iii

Angelina Triaf ©2016 Present

A Crime

Lee Dongmin/Eunwoo (Astro) & Park Cheonsa (OC) | Fluff | T | Ficlet

0o0

Eunwoo sedang duduk di ruangannya saat terdengar suara ketukan pintu. Ia menyuruh orang di balik pintu itu masuk dan mendapati seorang gadis yang cukup tak asing dalam pandangannya. Park Cheonsa, mahasiswi semester tiga jurusan seni. Dengan senyum Eunwoo mempersilakan Cheonsa untuk duduk di hadapannya.

“Permisi, Sunbae. Dosen Kim bilang jika Sunbae akan membantu saya menyelesaikan beberapa tugas yang beliau berikan tadi siang.”

Mendengar itu, Eunwoo hanya mengangguk membenarkan. Dosen Kim memang mengiriminya pesan jika ada mahasiswanya yang akan meminta bantuan pada Eunwoo―ia termasuk salah satu asisten Dosen Kim. Namun Eunwoo tak pernah menduga jika keberuntungan menghampirinya seperti ini.

Setelah membenahi kertas-kertas laporan kegiatan senat yang tadi sempat ia periksa, Eunwoo akhirnya menyuruh Cheonsa untuk pindah duduk di sofa sudut ruangan. Ruangan senat ini memang sangat nyaman sehingga Dosen Kim tanpa ragu meminta Cheonsa agar mengerjakan tugasnya di sini.

Sementara Eunwoo merapikan dokumennya, Cheonsa juga mulai membuka beberapa lembar tugasnya dan buku musik yang telah ia tulisi separuhnya. Dosen Kim meminta Cheonsa untuk membuat salah satu bentuk perpaduan musik sederhana semacam resital, dengan minimal tiga alat musik sebagai instrumennya. Cheonsa sebenarnya menguasai cukup banyak alat musik, hanya saja ia merasa jika gitar adalah pilihan terbaik namun ia tak terlalu menguasainya.

Itulah mengapa Dosen Kim menyarankan agar Cheonsa meminta bantuan Cha Eunwoo yang terkenal sebagai jenius musik di jurusannya. Eunwoo juga merupakan salah satu senior populer di kampus jadi Cheonsa tak butuh waktu lama untuk mengetahui profil Eunwoo.

“Jadi, bagian mana yang sekiranya bisa kubantu?”

Eunwoo telah melepas kacamata yang tadi ia kenakan dan telah duduk di samping Cheonsa, dengan gitar di pangkuannya. Ia membaca lembaran melodi yang telah Cheonsa buat lalu memelajari isinya. Setelah membaliknya tiga kali, Eunwoo menaruh buku itu di atas meja dan menatap Cheonsa.

“Kudengar kau bisa bermain harpa,” ucap Eunwoo, yang dibalas dengan anggukan oleh Cheonsa. “Ini hanya saranku, tapi jika kau ingin menyisipkan melodi gitar pada lagu ini sebaiknya kau ganti melodi harmonika dengan harpa saja.”

Itulah awal dari diskusi mereka. Setelahnya hanya ada suara gesekan pensil dan kertas oleh Eunwoo tak lupa dengan beberapa petikan kunci gitar. Ternyata Eunwoo hanya mengandalkan instingnya saja dalam membuat melodi. Ia tak sampai berulang kali memainkan melodinya di hadapan Cheonsa.

Sampai selesai pun, Eunwoo langsung meletakkan pensilnya dan kembali menatap Cheonsa. “Aku sudah membuat melodi gitarnya dari awal sampai akhir. Kau bisa ganti bagian akhirnya jika tak suka, atau kalau kau menyukainya kau bisa langsung masukkan permainan piano dan harpamu,” ujar Eunwoo, tak lupa dengan senyum manis yang membuat Cheonsa terpesona untuk beberapa detik.

“Mau mendengarkannya sebentar?”

Tanpa menunggu jawaban Cheonsa, Eunwoo langsung memulai permainan gitarnya. Entah mengapa, Cheonsa rasa melodi itu sangat indah―bahkan lebih indah dari yang telah ia buat. Ia hanyut di dalamnya.

Sampai permainan gitar itu ditutup dengan manis, Cheonsa membuka matanya yang tanpa sadar ia pejamkan sedari tadi. Terkejut dibuatnya, wajah Eunwoo berjarak sangat dekat dengannya. Cheonsa sudah tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, sampai tangan besar itu memegang tengkuknya bersamaan dengan benda lembut yang menyentuh bibirnya.

Ia hanya diam tanpa suara, tubuhnya kaku dan tak tahu lagi apakah otaknya tersumbat sesuatu atau sejenisnya. Cheonsa tak bisa berpikir jernih, apalagi ketika Eunwoo melumat bibirnya lebih dalam, lembut namun menggairahkan bagi Cheonsa.

Mungkin Eunwoo sudah terbiasa dengan hal seperti ini, namun tidak dengan Cheonsa. It’s her first time for life.

You think it’s a crime, don’t you?”

Cheonsa kembali tersadar pada realitas begitu mendengar bisikkan dengan suara berat khas Eunwoo. Sungguh, Cheonsa tak pernah memimpikan adegan seperti ini dalam hidupnya. Nampak seperti, entahlah, she doesn’t have any idea of it.

But it’s my pleasure for doing that and I hope you’ll be wonted with me then.”

Lagi-lagi senyum manis itu yang Eunwoo tunjukkan, membuat Cheonsa semakin enggan untuk berkata-kata.

Eunwoo bukanlah pemuda sembarangan, dan Cheonsa sadar akan hal itu.

FIN

Advertisements

Author:

Usually be called Angel or Princess. Just an extraordinary girl who looks ordinary.

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s