Posted in AFFI Freelance, Ficlet, PG-15, Supranatural, Surrealism

[AFFI Freelance] Somewhere Outside the Labyrinth – Ficlet

somwhere outside the labyrinth

Somewhere Outside the Labyrinth

Casts Yoon Sanha [ASTRO], Dakota Kim Genre Supranatural, surrealism Length Ficlet Rating PG-15 Disclaimer I own the plot Picture credit favim.com (unknown source but it was posted under the account noobthenewbie)

.

© 2016 namtaegenic

.

Ia sudah berada di suatu negeri, di luar labirinnya

.

[Yoon Sanha]

Ketika Dakota mengetuk pintuku pagi-pagi sekali, kupikir aku sedang bermimpi. Gadis itu menampakkan wajahnya di birai jendela yang telah kubuka tirainya pada pukul enam, lantas menjungkitkan alisnya, isyarat ingin bertemu muka.

Aku lantas memutar kenop. Perasaanku bergejolak. Jantungku melompat, kelihatannya hendak lekas berpindah hunian—bukankah itu menyebalkan? Dakota menghilang nyaris dua minggu lamanya dan kini—seakan mengemas dirinya sendiri di dalam kotak kado berhiaskan pita beludru— ia menjejak tepat di depan hidungku, siapa bisa mengira?

Kuhabiskan semenit atau satu setengah demi menatap wajahnya yang belum memudar dari benak. Sungguh, adalah Dakota yang sedang berkacak pinggang di hadapanku saat ini. Aku belum lupa senyumannya yang menjengkelkan dan memikat dalam waktu yang bersamaan.

“Rindu aku, Sanha?”

“Sangat!” tidak perlu memperbanyak lisan kala rindu menyergap tanpa ampun. Satu pelukan dan hatiku kembali jadi miliknya. Setidaknya itulah yang ada di kepalaku saat ini, meskipun nyatanya Dakota tak pernah menjadi milikku. Hanya Dakota yang kupunya sejak kecil, tak peduli pada cemoohan orang dan julukan ‘Ekor Dakota’ yang mereka tempelkan padaku. Gadis itu panutanku dan selalu akan menjadi seperti itu. Ia cantik, kuat, dan punya pengaruh nyaris di mana pun ia menapak. Dan aku hanyalah anak yang tersesat di kelokan demi kelokan labirin raksasa. Labirin maya, tak kasatmata, namun menyuguhkan benturan menyakitkan acap kali aku salah melangkah.

Bersama Dakota, kutelusuri labirin itu dengan mudah. Setidaknya hingga gadis itu menghilang tanpa bekas. Aku berusaha mencarinya, di pelosok daerah tempat tinggalku, di sekolah, di tempat bimbingan belajar, namun tampaknya gadis itu pandai menghapus jejak.

“Ke mana saja kau selama ini?” jemariku akhirnya punya nyali untuk menyelip di antara helai sehitam tinta yang menggelitik daguku. Dakota kembali. Dan aku tidak bisa meminta lebih banyak lagi.

.

.

[Dakota Kim]

“Saya turut berdukacita.”

Bibi rumah sebelah hanya mengangguk, berusaha memasang sikap tabah di antara sedu-sedan, tapi siapa yang bisa diam saja ketika ditinggalkan. Manikku memindai semua sisi ruang duka. Di mana-mana air mata. Itulah kenapa aku selalu merasa sungkan untuk hadir di prosesi penghormatan terakhir. Semua kebahagiaan seakan terisap habis sampai ke kerak Bumi, tergantikan dengan kepedihan yang menyelubungi. Aku tak pernah merasa nyaman berada di tengah suasana demikian. Tidak ada yang merasa nyaman.

Lagi pula, aku ingin memberitahu pada Bibi, bahwa ia baik-baik saja. Bukan sekadar kalimat penghibur seperti ‘ia sudah tenang di sana’ dan sebagainya (meskipun bisa saja itu memang benar adanya), tapi benar-benar baik-baik saja.

Yoon Sanha baik-baik saja. Aku saksinya.

Aku singgah di sini pada pukul enam agak terlalu pagi untuk penghormatan terakhir, dan ia membukakan pintu. Aku terkejut, tentu saja. Ia berdiri di depanku. Ia yang setengah bulan terbaring koma di pembaringan, menatapku tak percaya saat itu. Yoon Sanha membelalak, wajah tampannya tampak bersih, tak ada sisa lebam dan jahitan bekas kecelakaan yang merenggut kesadarannya selama dua minggu terakhir. Bajunya serba putih. Aku bersumpah ia tampan sekali.

Kemudian kurasakan tarikan tangannya saat ia membenamkanku ke pelukan, persis setelah mulutku berhasil meloloskan sebuah kelakar perihal rasa rindu—pura-pura tak tahu apa yang terjadi, dan berhasil. Kami saling melingkarkan tangan ketika belum ada siapa pun di sana. Aku bisa merasakan kehangatan dari Yoon Sanha, tak peduli apakah aku sedang memeluk delusi, atau sejatinya ektoplasma.

Aku hanya yakin pada dua hal. Bahwa aku merindukannya seperti ia merindukanku, dan—

“Saya menyayangi Sanha, Bi. Bibi tahu itu.”

“Oh, Dakota. Sering-seringlah mampir ke sini.”

—ia akan bahagia.

Advertisements

Author:

Dedicated to Fantagio's rookie group, ASTRO and shared all imagine from awesome writers using Bahasa.

Leave your review, AROHA~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s